Pemaknaan Khalayak terhadap Kesenjangan Sosial Yang Ditunjukan Pada Film “Parasite”

Giselle Vincentia Tiogas, Lusia Savitri Setyo Utami
| Abstract views: 553 | views: 514

Abstract

For some countries including Indonesia, the problem of poverty has become one of the problems that are quite serious. With the existence of the problem of poverty resulted in a very striking social inequality in which some people live with all its abundance, while some other people live in inadequacy. Social inequality is not only found in the lives of Indonesian people, but can also be found in the lives of South Korean people as showed in the "Parasite" film by director Bong Joon Ho. The researcher use "Parasite" film as an object of research because researcher want to explore how the meaning of the audience of the social inequality shown between poor families and rich families in the "Parasite" film. The theoretical foundation used in this research is communication theory, and reception analysis theory. This research uses descriptive qualitative research with phenomenology method. Analysis of Reception according to Stuart Hall there are 3 meanings namely, dominant reading, negotiated reading, and oppositional reading. The results of the research show the meaning of the audience of the nine scenes of social inequality shown in the film "Parasite" is dominated by the dominant reading, which are means that the most of the scenes of social inequality are truly suitable with the real life reality in Indonesian society.

Bagi sebagian negara termasuk Indonesia, masalah kemiskinan sudah menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Dengan adanya masalah kemiskinan tersebut mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial yang sangat mencolok dimana sebagian warga masyarakat hidup dengan segala kelimpahannya, sedangkan sebagian warga masyarakat lainnya hidup dalam kekurangan serta ketidakcukupan. Kesenjangan sosial bukan hanya ditemukan di kehidupan masyarakat Indonesia, namun dapat ditemukan juga pada kehidupan masyarakat Korea Selatan seperti yang digambarkan dalam film “Parasite” oleh sutradara Bong Joon Ho. Peneliti menggunakan film “Parasite” sebgai objek penelitian karena peneliti ingin menggali bagaimana pemaknaan oleh khalayak terhadap kesenjangan sosial yang ditunjukkan antara keluarga miskin dan keluarga kaya pada film “Parasite”. Landasan teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori komunikasi, dan teori analisis resepsi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Analisis Resepsi menurut Stuart Hall terdapat 3 pemaknaan yakni, pemaknaan dominan, pemaknaan negosiasi, dan pemaknaan oposisi. Hasil penelitian menunjukan pemaknaan khalayak dari kesembilan adegan kesenjangan sosial yang ditunjukkan pada film “Parasite” didominasi oleh pemaknaan dominan, yang berarti sebagian besar adegan kesenjangan sosial yang digambarkan sesuai dengan realita kehidupan nyata di masyarakat Indonesia.

Keywords

reception analysis; meaning; social inequality; Parasite film

Full Text:

PDF

References

Ahmad Toni & Dwi Fajariko, (2017). Studi Resepsi Mahasiswa Broadcasting Universitas Mercu Buana Pada Film Journalism “Kill The Messenger”. Jurnal Komunikasi, Vol. 9, No. 2, Desember 2017, Hal 151-163

Arsyad, Azhar. (2014). Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Barker, chris. (2013). Cultural studies : Teori dan praktek. (Yogyakarta : Kreasi wacana)

Morrison, M.A. (2010). Teori Komunikasi Massa : Media, Budaya, dan Masyarakat. Bogor : PT Ghalia Indonesia

Reni Kartikawati, (2012). “Stratifikasi Sosial Warga Binaan Wanita di Rutan Pondok Bambu.” Jurnal Sosiologi Masyarakat, Vol. 17, No.2, Juli 2012: 153-186.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT. Alfabet 1% Orang Terkaya Indonesia Menguasai 46% Kekayaan Penduduk. (2018, September 30). (diakses pada 19 Februari 2020, pukul 23:00) https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/30/1-orang-terkaya-indonesia-menguasai-46-kekayaan-penduduk

Parasite Gambarkan Kehidupan Sendok Kotor Vs Sendok Emas (2020, Februari 11). Diakses pada 20 Februari 2020, pukul 10:03 https://republika.co.id/berita/q5hy3r414/ltemgtparasiteltemgt-gambarkan-kehidupan-sendok-kotor-vs-sendok-emas

Copyright (c) 2020 Koneksi
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.