Pengungkapan Diri Anak Tunarungu dalam Kelompok Teater Tujuh di Jakarta

Yola Nahria Mufida, Suzy S. Azeharie
| Abstract views: 124 | views: 96

Abstract

Human beings are social beings that coexist. Ideas or a message to others are conveyed through communication. In performing communication, a hearing sense is needed to hear the message delivered.Good hearing makes it easier for the creation of a meaning by a person. Things are different when one's condition cannot hear or be deaf.   Disturbances on hearing experienced by deaf children will impact verbal abilities so that they use sign language and body language to communicate. Deaf children experience problems of their own especially on communication, it impacts their confidence and tends to shut down. Self-disclosure required deaf children who applied when they were in a social setting. The author conducts research relating to the self-disclosure of deaf children in the group Theatre Seven in Jakarta. The theory the author uses is group communication theory and self-disclosure theory. The author uses a qualitative research approach and case study research method. In this study the author selected five informants for information and data with regard to research topics. The criteria chosen from the author were deaf children in the 8-12-year-old group of Theatre Seven. The results show that there was a self-disclosure of deaf children in the group Theatre Seven. That is confidence, believing in others, sharing information about him or her to others such as experience, feelings, and ideas as well as there is the effectiveness of communication with Indonesia Sign Language (Bisindo) and making communication more efficient. 


Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berdampingan. Gagasan atau suatu pesan kepada orang lain disampaikan melalui komunikasi. Dalam melakukan komunikasi, indera pendengaran dibutuhkan untuk mendengar pesan yang disampaikan. Pendengaran yang baik memudahkan terciptanya suatu makna oleh seseorang. Hal berbeda terjadi bila kondisi seseorang tidak dapat mendengar atau tunarungu. Gangguan pada pendengaran yang dialami anak tunarungu akan berdampak pada kemampuan verbal sehingga mereka menggunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Anak tunarungu mengalami masalah tersendiri terutama pada komunikasi. Hal tersebut berdampak pada kepercayaan diri mereka dan kecenderungan menutup diri. Pengungkapan diri diperlukan anak-anak tunarungu ketika mereka berada di lingkungan sosial. Penulis melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengungkapan diri anak tunarungu dalam kelompok Teater Tujuh di Jakarta. Teori yang digunakan penulis adalah teori komunikasi kelompok dan teori pengungkapan diri. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini, penulis memilih lima informan untuk mendapatkan informasi dan data yang berkaitan dengan topik penelitian. Kriteria yang dipilih dari penulis adalah anak tunarungu dalam Kelompok Teater Tujuh yang berusia 8-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengungkapan diri anak tunarungu dalam kelompok Teater Tujuh yaitu dengan percaya diri, percaya dengan orang lain, berbagi informasi mengenai dirinya kepada orang lain seperti pengalaman, perasaan dan ide. Selain itu, terdapat efektifitas komunikasi dengan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan membuat komunikasi menjadi efisien.


Keywords

deaf children; group communication; self disclosure; anak tunarungu; komunikasi kelompok; pengungkapan diri

Full Text:

PDF

References

Azeharie, Suzy S & Wulan Purnamasari (2015). Penyingkapan Diri Ibas Yudhoyono Dalam Instagram Dan Reaksi Ibu Ani Yudhoyono Terhadap Postingan Instagram Ibas. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Tarumanagara.

Moleong, Lexy J. (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika.

Winarsih, M (2007). Intervensi Dini Bagi Anak Tunarungu dalam Pemrosesan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Direktorat Ketenagaan.

Wood, Julia T. (2012). Communication in Our Lives. Stanford: Concage Learning.

Copyright (c) 2020 Koneksi
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.