Makna Prasangka sebagai 'Monster' dalam Film Monster (2023)

Main Article Content

Agdelia Meliana
Doddy Salman

Abstract

Film is a medium in mass communication that functions to convey messages to audiences through audio-visual forms. This study aims to analyze the meaning of prejudice as a ‘monster’ in the Japanese film Monster (2023) using Roland Barthes’ semiotic analysis and Edwin M. Lemert’s labeling theory. The focus of this research is on visual and narrative signs that indicate social prejudice toward the Other within the context of social relations in Japanese society. The main concepts employed include mass communication, film as a medium of mass communication, prejudice, the concept of monsters in Japanese culture, Roland Barthes semiotics, and labeling theory. This study adopts a qualitative approach with semiotic text analysis to examine denotative, connotative, and mythic meanings presented in the film. The findings show that the ‘monster’ in the film does not refer to a physical being, but rather to a social construct formed through rigid cultural systems and social institutions. Labeling mechanisms, normative pressures, and Japanese cultural values play an important role in transforming difference into stigma. Thus, Monster conveys a social critique of society’s efforts to maintain superficial harmony by excluding individuals who are considered different. The film essentially addresses the failure of social systems to protect individuals. Prejudice and the labeling of "monsters" arise from a rigid society that chooses to exclude the other in order to maintain social harmony.


 


Film menjadi salah satu media dalam komunikasi massa yang berfungsi menyampaikan pesan kepada audiens melalui bentuk audio-visualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna prasangka sebagai ‘monster’ dalam film Jepang Monster (2023) dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dan teori labelling Edwin M. Lemert. Fokus penelitian diarahkan pada tanda-tanda visual dan naratif yang menunjukkan prasangka sosial terhadap liyan (the other) dalam konteks relasi sosial masyarakat Jepang. Konsep-konsep utama yang digunakan meliputi komunikasi massa, film sebagai media komunikasi massa, prasangka, konsep monster dalam budaya Jepang, semiotika Roland Barthes, serta teori labelling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis teks semiotika untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘monster’ dalam film tidak merujuk pada sosok fisik, melainkan pada konstruksi sosial yang terbentuk melalui sistem budaya dan institusi sosial yang kaku. Mekanisme pelabelan, tekanan norma, serta nilai budaya Jepang berperan penting dalam mengubah perbedaan menjadi stigma. Dengan demikian, film Monster menyampaikan kritik sosial terhadap upaya masyarakat mempertahankan harmoni semu dengan cara menyingkirkan individu yang dianggap berbeda. Film sejatinya merujuk pada kegagalan sistem sosial dalam melindungi individu. Prasangka dan pelabelan ‘monster’ muncul dari masyarakat yang kaku, yang memilih untuk menyingkirkan liyan (the other) demi mempertahankan harmoni sosial.

Article Details

How to Cite
Meliana, A., & Salman, D. (2026). Makna Prasangka sebagai ’Monster’ dalam Film Monster (2023). Koneksi, 10(1), 183–195. https://doi.org/10.24912/kn.v10i1.36457
Section
Articles

References

Asri, R. (2020). Membaca Film Sebagai Sebuah Teks: Analisis Isi Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI).” Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial, 1(2), 74–86. https://jurnal.uai.ac.id/index.php/JAISS

Cheryl, N. A., & Winduwati, S. (2025). Representasi Sikap Pantang Menyerah (Ganbaru): Analisis Semiotika Saussure pada Film Haikyuu!! “The Dumpster Battle” 168 Representasi Sikap Pantang Menyerah (Ganbaru): Analisis Semiotika Saussure pada Film Haikyuu!! “The Dumpster Battle.” KONEKSI, 9(1), 168–176. https://journal.untar.ac.id/index.php/koneksi

Fauziyah, E., & Saihu, M. (2025). Metode Analisis Teks dan Implementasinya. SAKOLA - Journal of Sains Cooperative Learning and Law, 2(1). https://rayyanjurnal.com/index.php/sakola

Hasibuan, M. N. S., Hsb, E. R., Hanum, F., & Harahap, N. J. (2020). Kajian Semiotik Dalam Puisi Ketika Engkau Bersembahyang Karya Emha Ainun Najib. Jurnal Education and Developmen, 8(2). https://journal.ipts.ac.id/index.php/ED

Huda, A. S., Nafsika, S. S., & Salman. (2023). Film Sebagai Media dalam Mengubah Cara Pandang Manusia dalam Prinsip Kemanusiaan. Irama: Jurnal Seni Desain Dan Pembelajarannya, 5(1), 9–14. https://ejournal.upi.edu/index.php/irama

Inshani, S. A., & Nasution, F. Z. (2023). Faktor Penyebab Munculnya Hubungan Prasangka dan Frustrasi dengan Perilaku Agresif Remaja. Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan, 3(1), 70–86. https://ejurnal.politeknikpratama.ac.id/index.php/JRIK

Syafrina, A. E. (2022). Komunikasi Massa (R. Kusumawati, Ed.). CV. Mega Press Nusantara. www.megapress.co.id

Waruwu, M. (2024). Pendekatan Penelitian Kualitatif: Konsep, Prosedur, Kelebihan dan Peran di Bidang Pendidikan. Afeksi: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 5(2), 198–211. https://afeksi.id/jurnal/index.php/afeksi

Wibisono, P., & Sari, Y. (2021). Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Film Bintang Ketjil Karya Wim Umboh Dan Misbach Yusa Bira. Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi, 1(1), 30–43. https://journal1.moestopo.ac.id/index.php/dinamika

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.