Makna Wayang Golek si Cepot pada Masyarakat Sunda Milenial dan Generasi Z

Andrew Limelta, Sinta Paramita
| Abstract views: 707 | views: 497

Abstract

In 2003 wayang was recognized by UNESCO as a global masterpiece as well as an intangible cultural heritage. Sundanese culture recognizes the legacy of wayang golek originating from the West Java region, and is usually realized through the display of props or puppets as a dualistic depiction of Javanese minds. In puppet show there are characters and characters that are played, but usually people are more familiar with the character of the Cepot who is considered as a entertainer and identity of the Sundanese. The purpose of this study was to see the meaning of the Cepot figure in puppet show art towards millennial Sundanese people and generation Z. The theories used in this study were the theory of communication, puppetry, and the concept of meaning. In this case the data obtained through the results of observations and interviews. The conclusion in this study is that the Sundanese generation of generation millennial and generation Z considers the puppet show as an important art, but no longer as the main consumption. Besides that, there is a loss of elements from the Cepot character in the puppet show, even the Sundanese people consider the Cepot figure only as an entertaining figure.


Pada tahun 2003, wayang diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia sekaligus warisan budaya tak benda. Budaya Sunda mengenal warisan wayang golek yang berasal dari wilayah Jawa Barat, dan biasanya direalisasikan melalui pertunjukan alat peraga atau boneka sebagai penggambaran alam pikiran orang Jawa yang dualistik. Dalam kesenian wayang golek terdapat tokoh dan karakter yang dimainkan, namun biasanya masyarakat lebih mengenal tokoh si Cepot yang dianggap sebagai penghibur dan jati diri orang Sunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat makna tokoh si Cepot dalam kesenian wayang golek terhadap masyarakat Sunda milenial dan generasi Z. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, wayang, dan konsep makna. Dalam hal ini data yang diperoleh melalui hasil dari observasi dan wawancara. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa masyarakat Sunda generasi milenial dan generasi Z menganggap kesenian wayang golek sebagai suatu kesenian yang penting, namun bukan lagi sebagai konsumsi utama. Selain itu adanyaunsur dari tokoh si Cepot yang hilang dalam wayang golek. Bahkan masyarakat Sunda menganggap tokoh si Cepot hanya sebagai tokoh penghibur.


Keywords

art; cepot; meaning; sundanese society; wayang golek; kesenian; makna; masyarakat sunda

Full Text:

PDF

References

Bungin, Burhan. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Creswell, John W. (2015). Penelitian Kualitatif dan Desain Reset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gunawan, Imam. (2014). Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Liliweri, Alo. (2009). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta : LKiS .

Moleong, Lexy J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rodakarya.

Rakhmat, Jalaluddin. (2012). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharyono, Bagyo. (2005). Wayang Beber Wonosari. Solo: Bina Citra Pustaka.

Anggoro, Bayu. (2018). Wayang dan Seni Pertunjukan: Kajian Sejarah Perkembangan Seni Wayang di Tanah Jawa sebagai Seni Pertunjukan dan Dakwah. Diakses pada 23 Agustus 2019, dan terarsip di: http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/juspi/article/view/1679/1812

Cahya. (2016). Nilai, Makna, dan Simbol Dalam Pertunjukan Wayang Golek Sebagai Representasi Media Pendidikan Budi Pekert. Diakses pada 23 Agustus 2019, dan Terarsip di: https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/download/170/220.

Nurhidayat, Feri Sandria. (2016). Representasi Warna Merah Pada Wayang Golek si Cepot. Diakses pada 24 Agustus 2019, dan terarsip di: http://ojs.uninus.ac.id/index.php/ProListik/article/view/133

Paramita, Sinta. (2018). Pergeseran Makna Budaya Ondel-Ondel Pada Masyarakat Betawi Modern. Diakses pada 10 Oktober 2019, terarsip di: https://journal.untar.ac.id/index.php/baktimas/article/view/1888/1050

Rosyadi. (2009). Wayang Golek Dari Seni Pertunjukan Ke Seni Kriya (Studi Tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor). Diakse pada 23 Agustus 2019, dan terarsip di : http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/239/187

Sabila, Shafira. (2018). Strategi Humas Gerbang Kreasi Pemuda Cijahe (GKPC) Dalam Melestarikan Kesenian Tradisional Wayang Dalam Bentuk Wayang Bambu di Kelurahan Curug Mekar Kota Bogor. Diakses pada 24 Agustus 2019, dan terarsip di: https://library.moestopo.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=2144&bid=40753.

Seramasara, I Gusti Ngurah. (2019). Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya dan Agama di Bali. Diakses pada tanggal 24 Agustus 2019, dan terarsip di : https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/640/347

Sutomo. (2015). Konteks, Referensi, dan Makna: Kajian Semantik. Diakses pada 1 Oktober 2019. Terarsip di: https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fbib1/article/view/3748.

Yuflih, Wildan. (2015). Perilaku Komunikasi Dalang Wayang Kulit Dalam Memberikan Pesan Moral Kepada Penontonya di Kota Bandung. Diakses pada 24 Agustus 2019, dan terarsip di: https://elib.unikom.ac.id/download.php?id=272530.

Ganjar Kurnia. (2013). Kurang, Kesadaran Masyarakat Sunda Menjaga Budaya Sunda. Diakses pada 24 Agustus 2019, yang terarsip di: http://www.unpad.ac.id/2013/01/kurang-kesadaran-masyarakat-sunda-menjaga-budaya-sunda/

Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak. (2018). Profil Generasi Milenial Indonesia. Diakses pada 13 Januari 2020, yang terarsip di: https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/9acde-buku-profil-generasi- milenia.pdf

Copyright (c) 2020 Koneksi
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.