INTERVENSI PSIKOEDUKASI DALAM MENGATASI STIGMA DAN HAMBATAN KOMUNIKASI PADA TEMAN TULI YANG TERGABUNG DALAM GERKATIN KEPEMUDAAN

Grace Sutrisnadipraj, Nathasya Shesilia K, Sheila Putri F, Yessica Yulianto, Penny Handayani, Weny Pandia Sembiring
| Abstract views: 54 | views: 53

Abstract

Semua individu berhak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan. Namun,
perolehan hak yang sama tidak selalu terjadi pada individu-individu yang mengalami disabilitas, termasuk individu
dengan disabilitas tuna rungu atau yang dikenal dengan sebutan “Teman Tuli”. Salah satu organisasi khusus yang
dibentuk untuk mewadahi Teman Tuli muda dan anak-anak tuli di Indonesia adalah Gerkatin Kepemudaan (Gerakan
untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia). Tujuan dibentuknya Gerkatin Kepemudaan ini adalah agar muda-mudi bisa lebih
percaya diri, mandiri, dan setara dengan orang dengar, serta memperkuat kapasitas anak muda tuli untuk menghasilkan
pemimpin, baik untuk masyarakat tuli ataupun masyarakat Indonesia. Pada saat ini, Teman Tuli di Indonesia
menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat adalah bahasa yang
menggunakan gerakan tangan, kepala, tubuh dan sebagainya, terutama diciptakan oleh orang tuli dan untuk orang tuli
(kadang-kadang untuk pendengar). Namun pada saat ini jumlah Teman Dengar yang dapat memahami BISINDO
masih sangat minim karena kurangnya sosialisasi BISINDO kepada masyarakat luas. Teman Tuli yang jumlahnya
terbilang tidak sedikit ini masih harus menghadapi stigma dari masyarakat luas, dan di saat yang sama juga mengalami
kesulitan dalam kehidupan sehari-hari karena kurangnya fasilitas, sarana, dan prasarana yang mendukung. Tujuan
dilakukannya intervensi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif terhadap Teman Tuli, meminilasir stigma
terhadap Teman Tuli oleh para Teman Dengar yang cenderung negatif, dan membuka aksesbilitas komunikasi dengan
Teman Tuli melalui Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Keywords

Semua individu berhak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, perolehan hak yang sama tidak selalu terjadi pada individu-individu yang mengalami disabilitas, termasuk individu dengan disabilitas tuna rungu atau yang di

Full Text:

PDF

References

Afrianty, D. (2015, July 27). People with disability: locked out of learning? Dipetik April 7,

, from The University of Melbourne: Indonesia at Melbourne:

https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au

Afrianty, D., & Soldatic, K. (2016, September 6). Disability inclusive education in Indonesian

Islamic education institutions. Dipetik April 7, 2019, from Global Disability Watch:

http://globaldisability.org

De Souza, M. F., Araújo, A. M., Sandes, L. F., Freitas, D. A., Soares, W. D., Vianna, R. S., & De

Sousa, Á. A. (2017). Main difficulties and obstacles faced by the deaf community in

health access: an integrative literature review. Revista CEFAC, 19(3), 395-405.

doi:10.1590/1982-0216201719317116

Kementerian Kesehatan RI. (2014). Situasi penyandang disabilitas. Jakarta: Kementerian

Kesehatan RI. Dipetik April 7, 2019, from www.depkes.go.id

Kusters, A. (2017). When transport becomes a destination: deaf spaces and networks on the

Mumbai suburban trains. Journal of Cultural Geography, 34(2), 170-193.

doi:10.1080/08873631.2017.1305525

Luft, P. (2000). Communication barriers for deaf employees: Need assessment and problem-

solving strategies. Work, 14(1), 51-59.

Tuwo, G. A. (2016) Sebutan tuli atau tuna rungu, mana yang lebih tepat? Diakses pada 29 April

dari https://www.liputan6.com/global/read/2654898/sebutan-tuli-atau-tuna-rungu-

mana-yang-lebih-tepat


Refbacks

  • There are currently no refbacks.