MENGEMBANGKAN RADIO KOMUNITAS UNTUK MENGANGKAT EKONOMI KREATIF MASYARAKAT PEDESAAN

Dede Lilis Chaerowati
| Abstract views: 339 | views: 1059

Abstract

Community radio has become an alternative media for government and private radio since the reformation in Indonesia. Community radio means being creative, because the sustainability and survival of community radio in an area is very dependent on the creativity of the local actors. Community radio is a form of local creative economy that relies on the thinking, creativity and innovation of the local community. West Java is a province with the highest number of community radios. One of them is Ruyuk FM community radio in Mandalamekar Village, Jatiwaras District, Tasikmalaya Regency. This community radio has survived for a decade and continues to develop even today. This paper explores the state of Ruyuk FM as a media that has the potential to improve the creative economy of rural communities. Based on a qualitative research methodology with a case study approach, data collection techniques include interviews, observations, and document review.The results showed that the orientation of the founding of Ruyuk FM was to open access to information, build democratization and prosper the community. The operationalization of Ruyuk FM is as a medium of conversation and a vessel of knowledge for the community to build a productive imagination. The program is rooted in the community and sets the community as the main actor. As the result, the existence of Ruyuk FM results in the strengthening of community participation, raising community optimism to progress, and sows the seeds of community transformation from traditional farmers to entrepreneur farmers. Therefore, Ruyuk FM Community Radio has carried out community development by raising local community awareness about their ability to develop their villages and environments. Therefore, cultural values also support development. When community-centered and place-based approaches are integrated in development programs, transformational change can occur. Thus, a participatory approach to community radio has the strategic potential to become a catalyst and accelerator to lift the creative economy in the context of rural communities

ABSTRAK: Radio komunitas menjadi media alternatif dari radio pemerintah dan swasta sejak era reformasi di Indonesia. Berbicara radio komunitas berarti berbicara tentang berkreasi, karena keberlangsungan dan survivalitas radio komunitas di suatu daerah sangat bergantung pada kreativitas para aktor lokalnya. Radio komunitas merupakan salah satu bentuk dari ekonomi kreatif lokal yang mengandalkan pemikiran, kreativitas, dan inovasi masyarakat setempat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah radio komunitas terbanyak. Salah satunya radio komunitas Ruyuk FM di Desa Mandalamekar Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya. Radio komunitas ini telah bertahan selama satu dekade dan terus mengembangkan diri hingga kini. Tulisan ini mengeksplorasi keberadaan Ruyuk FM sebagai media yang berpotensi untuk mengangkat ekonomi kreatif masyarakat pedesaan. Berdasarkan pada metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi pendirian Ruyuk FM ialah membuka akses informasi, membangun demokratisasi dan memakmurkan masyarakat. Operasionalisasi Ruyuk FM ialah sebagai media perbincangan di udara dan wahana berpengetahuan pada masyarakat untuk membangun imajinasi produktif. Program acara berakar pada masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama. Walhasil, eksistensi Ruyuk FM berimplikasi pada menguatnya partisipasi masyarakat, memunculkan optimisme masyarakat untuk maju, serta menciptakan benih transformasi masyarakat dari petani tradisional menjadi petani wirausahawan. Oleh karenanya, Radio Komunitas Ruyuk FM telah melakukan pengembangan komunitas dengan membangkitkan kesadaran masyarakat lokal mengenai kemampuan mereka untuk membangun desa dan lingkungannya sendiri. Karenanya, nilai budaya juga mendukung pembangunan. Ketika pendekatan yang berpusat-masyarakat dan berbasis-tempat diintegrasikan dalam program pembangunan, maka perubahan transformatif bisa terjadi. Dengan demikian, pendekatan partisipatoris pada radio komunitas berpotensi strategis untuk menjadi katalisator dan akselerator untuk mengangkat ekonomi kreatif dalam konteks masyarakat pedesaan.

Keywords

community radio; creative economy; community development; community-centered and place-based approaches; participatory approaches;;radio komunitas; ekonomi kreatif; pengembangan komunitas; pendekatan berpusat-masyarakat dan berbasis-tempat; pendekatan par

Full Text:

PDF

References

Boccella, N. & Salerno, I. (2016). Creative Economy, Cultural Industries and Local Development. Dalam 2nd International Symposium "New Metropolitan Perspectives" - Strategic planning, spatial planning, economic programs and decision support tools, through the implementation of Horizon/Europe 2020. ISTH 2020, Reggio Calabria (Italy), 18-20 May 2016. Procedia - Social and Behavioral Sciences 223 (2016): 291–296. Elsevier Ltd.

Chuluunbaatar, E., Ottavia, Luh, D.B, dan Kung, S.F. (2014). The Role of Cluster and Social Capital in Cultural and Creative Industries Development. Dalam 2nd World Conference On Business, Economics And Management-WCBEM 2013. Procedia - Social and Behavioral Sciences 109 (2014): 552–557. Elsevier Ltd.

Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. 3rd ed. Los Angeles: Sage Publication, Inc.

Ife, J. & Tesoriero, F. (2008). Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Terjemahan Sastrawan M., Nurul Y., & M. Nursyahid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Marris, P. (2000). Community Development (Pengembangan Komunitas). Dalam Kuper, A. dan Kuper, J. (penyunting). Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Terjemahan Haris Munandar dkk. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mills, A.J., Durepos, G. & Wiebe, E. (eds). (2010). Encyclopedia of Case Study Research. Volume 2. Thousand Oaks, California: SAGE Publications, Inc.

Pant, S. (2009). International Development Theories. Dalam Littlejohn, S. W., dan Karen A. F. (eds.) Encyclopedia of Communication Theory. Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.

Purbo, O. W. (2004). Pengalaman Berjuang Tanpa Merengek Pemerintah. Infotek Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004: 1-13.

Tucker, E. (2013). Community Radio in Political Theory and Development Practice (Discussion paper). Journal of Development and Communication Studies, Vol. 2. Nos. 2/3, July-December, 2013. ISSN (Online): 2305-7432.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

UNDP & UNESCO. (2013). Creative Economy Report 2013 Special Edition: Widening Local Development Pathways. New York, USA: the United Nations Development Programme (UNDP); Paris, Perancis: the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Wabwire, J. (2013). The Role of Community Radio in Development of the Rural Poor. New Media and Mass Communication Volume 10, 2013: 40-47.

Wahyudin, A, Saputra, D., Pramono, I.E., Hikmat, M.M., Syaifurohman, M., Athiatul F.,N., Buldansah, Sakti S.R., Suryadireja, dan Rohayati, Y. (eds.). (2015). Direktori Lembaga Penyiaran Berizin di Provinsi Jawa Barat 2015: Radio Televisi. Bandung: Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Jawa Barat.

BEKRAF Badan Ekonomi Kreatif Indonesia: Tonggak Baru Ekonomi Kreatif Indonesia. http://www.bekraf.go.id/profil. Diakses 6 Oktober 2017.

Bintang. (2015). Ekonomi Kreatif adalah Pilar Perekonomian Masa Depan. Diperoleh dari https://kominfo.go.id/content/detail/5277/ekonomi-kreatif-adalah-pilar-perekonomian-masa-depan/0/berita. Diakses 6 Oktober 2017.

http://jrki.or.id/?page_id=28. Diakses 6 Oktober 2017.

http://jrkjawabarat.blogspot.com/. Diakses 6 Oktober 2017.

https://kominfo.go.id/content/detail/9545/melalui-nawacita-pemerintah-berkomitmen-bangun-desa/0/berita. Diakses 6 Oktober 2017.

Copyright (c) 2018 Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia

Refbacks

  • There are currently no refbacks.