DESAIN INTERIOR RETAIL KOPITIAM “SAN DIAN LOU” PADA BANGUNAN DENGAN GAYA ARSITEKTUR INDISCHE DI KAWASAN GAMBIR, BATU TULIS
Main Article Content
Abstract
Indonesia as an archipelago country that is rich in diverse cultures that holds history. Of the many events in history, there are many historical relics that still survive. the architectural style of the Indische building is one of the relics from the Dutch colonialism era, which is a term for the form of residence inhabited by Dutch East Indies government, with the of a mixture of Dutch building forms with traditional architecture. In relation to kopitiam, kopitiam itself is a coffee shop serving traditional Chinese breakfast menu that is popular in Malaysia and Singapore. The term Kopitiam comes from a combination of the words “kopi” in Malay and “tiam” in Hokkien, which means shop. for this renovation, it was necessary to combine both elements and cultures and create an identity. The subject matter is in the form of a building that has not represented the culture of kopitiam yet. as well as the utilization of elements in indsche buildings that can be reused. as well as a modern design, so that the interior of the retail doesn’t feel as old. With the aim of producing an interior image that combines indische elements with kopitiam culture to create new brand identity. Qualitative research methods, observation, and documentation are the research methods that was used in this research article. Elements of the interior, such as built-in furniture and existing windows, can be used as references in the design, as well as decorative elements that reflect the kopitiam culture. Such as floors and windows from the building. Additions to the lighting include accent lights and task lights that give a modern feel. It is hoped that this research can be beneficial in the fields of interior design and architecture in developing a fusion of concepts, particularly the Indische architectural style with the traditions and culture of kopitiams.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan ragam budaya juga menyimpan banyak kisah sejarah. dari sekian banyak kejadian dalam sejarah, pasti terdapat banyak peninggalan sejarah yang masih bertahan. gaya arsitektur bangunan Indis menjadi salah satu peninggalan pada era kolonialisme belanda, yang merupakan sebuah sebutan untuk bentuk dari rumah tinggal yang dihuni oleh para pejabat pemerintah Hindia Belanda, dengan ciri-ciri campuran bentuk bangunan belanda dengan arsitektur tradisional. Berhubungan dengan perancangan ritel kopitiam, kopitiam itu sendiri merupakan kedai kopi yang menyajikan menu sarapan tradisional Cina yang populer di wilayah Malaysia dan juga Singapura. Istilah Kopitiam itu sendiri berasal dari kombinasi kata “kopi” dalam bahasa melayu dan “tiam” dalam bahasa Hokkien, yang berarti kedai. Untuk merealisasikan proyek renovasi ini, maka dibutuhkan cara untuk mengkombinasikan kedua elemen dan budaya dan menciptakan identity atau citra untuk interior ritel kopitiam "San Dian Lou". Pokok permasalahan berupa bangunan yang belum merepresentasikan budaya kopitiam pada banguan arsitektur indis. serta pemanfaatan elemen-elemen pada bangunan indis yang dapat digunakan ulang. Serta desain yang modern, sehingga interior ritel tidak tampak tua. Dengan tujuan menghasilkan citra interior yang memperpadukan elemen indis dengan budaya kopitiam sehingga menciptakan citra atau brand identity baru. metode penelitian kualitatif serta observasi dan dokumentasi merupakan metode penelitian yang digunakan. Elemen dari interior seperti build in furniture hingga jendela eksisting dapat dijadikan referensi dalam mendesain, serta elemen dekorasi yang menunjukkan budaya kopitiam. Penggunaan ulang elemen interior seperti lantai dan jendela dari bangunan indis. Penambahan dalam sistem pencahayaan berupa accent light dan task light yang memberi kesan modern. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dalam ilmu desain interior dan arsitektur dalam pengembangan perpaduan konsep terutama gaya arsitektur indis dengan tradisi dan budaya kopitiam.
Article Details
References
Anufia, B., & Alhamid, T. (2019). Instrumen pengumpulan data.
Dermawan, F. S. M., & Mala, I. K. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan di Kedai Kopitiam Laoban Surabaya. Jurnal Strategi Bisnis Teknologi, 1(3).
Ghassani, D. A., & Wulandari, L. D. (2024). Karakteristik interior kopitiam di Kota Malang melalui tipologi arsitektur.
Hastati, F., Kamase, G. A. P. P., & Putra, P. J. (2021). Karakteristik arsitektural bangunan Indis pada perumahan pegawai PJKA Pengok Blok A & B di Yogyakarta. SADE: Jurnal Arsitektur, Planologi dan Teknik Sipil, 1(1), 28–41.
Hidayah, K. N. (2023). Representasi budaya Tionghoa dalam Kedai Kopi Es Tak Kie (1927–1998) (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Jakarta).
Kilmer, R., & Kilmer, W. O. (2024). Designing interiors. John Wiley & Sons.
Muhsin, A., Febrian, M. R., Rizq, L. N., Kuncoro, E., & Rasyifa, K. (2023). Identifikasi gaya arsitektur Indische Empire Style pada bangunan rumah tinggal Wangsadikrama Kota Cimahi. Reka Karsa: Jurnal Arsitektur, 11(3), 1–14.
Nasution, A. F. (2023). Metode penelitian kualitatif.
Purwanza, S. W. (2022). Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif dan kombinasi. CV Media Sains Indonesia.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.