TEKNOLOGI 3D MAPPING DAN KONSEP KONTEKSTUAL PERANCANGAN MUSEUM EDUKASI SEKS DI MANGGA BESAR

Calvin Chandra, Lina Purnama
| Abstract views: 40 | views: 27

Abstract

Millennials is a generation that’s gifted with techonology, they were born surrounded by technology. But as the time goes bye, using all the technologies such as mobile devices and internet would bring a negative effects. With all the easiness to access all information, many people (millennials) find it difficult to differentiate the negative and the positive ones, since the internet would provide all kind of information including the negatives such as pornography. A group of people who spent more time on the internet (more than four hours per-day) would have a higher tendency to premarital sexual behavior (Indrijati, 2017).  As a result now, bunch of millennials are exposed to a sexually transmitted disease (STDs). Due to lack of sex education, preventing and controlling the disease has become a difficult task. Sex education still categorized as a ‘taboo’ thing to be discussed on public, even more to be educated.  This becomes the main reason for many millennials to seek out the information by themselves through the internet, and eventually got exposed by the negative contents such as pornography. By analyzing various elements of sex education as the basis and providing a decent information that’s suitable for the community especially millennials, while also noticing modern entertainment’s development as a catalyst to introduce the program. The idea is to emerge an incorporate elements of sex education and modern entertainment technology into a museum. 3d mapping technology used to provide a whole new experience on public education. The chosen site is on Mangga Besar area which known as the “Eden Garden” at night, because of the culinary center and the nightlife in West Jakarta. This project would also interacts with its surroundings, as an open space for the communities around. This project consisted of some programs which is, supported by 3d mapping room, café, gallery, and seminar room. This project aim to amend people’s perception of sex as a taboo thing to become something that must be educated to all the community.

 

Abstrak

Generasi milenial adalah generasi yang mahir menggunakan teknologi, mereka lahir ketika teknologi sudah ada di sekeliling mereka. Namun seiring perkembangan zaman terutama di bidang teknologi seperti penggunaan internet, gawai, dan perangkat komputer tentu juga membawa berbagai dampak negatif. Dengan mudahnya mengakses informasi, banyak dari generasi milenial sulit menyaring berbagai informasi yang ada saat ini, terutama konten-konten negatif seperti pornografi. Kelompok dengan frekuensi menggunakan internet yang tinggi (lebih dari empat jam) memiliki kecenderungan tinggi pula pada perilaku seksual pranikah (Indrijati,2017). Akibatnya saat ini, banyak dari generasi milenial terpapar oleh Penyakit Menular Seksual (PMS). Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan dari Penyakit Menular Seksual ini adalah karena kurangnya edukasi seks di Indonesia. Edukasi seks masih menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan dan disosialisasikan ke masyarakat umum. Hal inilah yang menyebabkan generasi milenial dengan sendirinya mencari informasi mengenai seks dan terpapar konten negatif seperti pornografi. Dengan menganalisis berbagai unsur edukasi seks sebagai dasar untuk mengedukasi dan memberikan informasi yang benar mengenai seks itu sendiri ke masyarakat luas, serta melihat perkembangan teknologi hiburan modern sebagai katalis pengenalan program, muncul ide untuk menggabungkan unsur edukasi seks dan teknologi hiburan modern tersebut dalam proyek museum. Teknologi 3D Mapping dimanfaatkan untuk memberi pengalaman baru dalam mengedukasi masyarakat. Tapak yang dipilih berada di daerah Mangga Besar sebagai kawasan yang terkenal sebagai “taman eden” pada malam hari karena terkenal sebagai pusat kuliner dan hiburan malam di Jakarta Barat. Proyek ini juga berinteraksi dengan sekitarnya sebagai tempat yang nyaman dengan ruang terbuka untuk masyarakat sekitar. Program didukung dengan ruang 3D Mapping, cafe, galeri, dan ruang seminar. Proyek ini diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat bahwa seks suatu topik yang tabu dan dapat mengedukasi masyarakat secara luas.

Keywords

3D Mapping; Edukasi Seks; Mangga Besar; Museum; Ruang Terbuka

Full Text:

PDF

References

Antoniades, C, A. (1992). Poetics of Architecture : Theory of Design. New York: Van Nostrand Reinhold.

Atler, D. (1969). Metric Handbook Planing and Design Data

Eilean, H. G. (1994). The Educational Role of the Museum 2nd edition. London: Routledge.

Gallup. (2016). How Millennials Want to Work and Live. Retrieved February 20, 2019, from https://www.gallup.com/workplace/238073/millennials-work-live.aspx

Henderson, J. (1998). Museum Architecture. London: Mitchell Beazley.

Indrijati, H. (2017). Penggunaan Internet dan Perilaku Seksual Pranikah Remaja.

Utomo, W.P. (2019). Indonesia Millennial Report [Electronic version]. Jakarta: IDN Research Institute.

Wulantika, S (2014). Pentingnya Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Usia Dini, Kompasiana, diunduh 20 Februari 2019, https://www.kompasiana.com/wicka14/54f8417ca33311855e8b48f6/pentingnya-mengenalkan-pendidikan-seks-sejak-usia-dini


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.