PUSAT KREATIVITAS DI PASAR BARU

Reynaldo Gunawan, Martin Halim
| Abstract views: 34 | views: 24

Abstract

Based on research, milennials have one prominent character over the past generations, it is creative thinking. after several studies milenials have a huge interest on fashion and craft, as seen on their creative activity both In real life and digital life related to it. Indonesian Creative Entrepreneurs nowadays are dominated with Millennials1. But what prevent their bussinesses from growing are the synergy inbetween that is too complicated, waisting their time and money. Creative Hub is a space, sustainably supporting creative entrepreneurs and people to gather, collaborate, and grow. Createur itself is a combination of Creative and Entrepreneur. Createur located near Pasar Baru, a historic shopping center that supply various things related to fashion and craft, there are also skilled workers related. Design method that was used is Pattern Language by studying physical pattern around site and recreating new pattern associated with the building programs produced. Createur in this case provide various kinds of facilty related from idea searching, designing, producing, to publishing. Milenials that was working inside the Creative Hub can easily jump to the field discovering materials. watching the skilled workers, and practice directly inside the Creative Hub.

 

Abstrak

Berdasarkan pengkajian, milenials memiliki satu karakteristik yang menonjol dari generasi sebelumnya, yakni berpikir kreatif. Setelah melakukan beberapa studi milenials memiliki minat yang besar terhadap bidang Fashion dan Kriya, hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas kreatif milenials baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang terkait dengan kedua hal tersebut. Pelaku usaha kreatif di indonesia saat ini didominasi oleh Milenials. Namun yang menjadi penghalang berkembangnya usaha kreatif milenials adalah sinergi usaha yang terlalu rumit dan membuang banyak waktu dan biaya. Pusat Kreativitas adalah ruang yang secara berkelanjutan mendukung pelaku usaha kreatif dan orang-orang untuk berkumpul, berkolaborasi, dan berkembang. Createur sendiri adalah gabungan dari creative dan entrepreneur yang artinya adalah pelaku usaha kreatif. Createur berlokasi di dekat Pasar Baru, pusat perbelanjaan bersejarah yang menyediakan berbagai macam kebutuhan yang berhubungan dengan fashion dan kriya didalamnya-pun banyak tenaga terampil terkait. Metode perancangan yang digunakan adalah pattern language dengan mengkaji pola fisik di sekitar tapak dan membuat pola baru dengan mengaitkan dengan program bangunan yang dihasilkan. Createur dalam hal ini menyediakan berbagai macam fasilitas yang berhubungan mulai dari pencarian ide, mendesain, produksi, hingga publikasi. Milenials yang sedang bekerja di dalam Pusat Kreativitas dapat dengan mudah terjun ke lapangan berbelanja bahan produksi, melihat para tenaga ahli bekerja, dan langsung mempraktikannya di dalam Pusat Kreativitas.

Keywords

Fashion; Kreativitas; Kriya; Pasar Baru; Pusat

Full Text:

PDF

References

Ali, H., dkk. (2016). Indonesia 2020: The Urban Middle Class Millenials, Jakarta: Alvara Research Center.

Alexander, C. (1979). A Pattern Language. Town. Buildings. Construction. California: Center for Environmental Structure.

Badan Pusat Statistik. (2018). Kecamatan Sawah Besar dalam Angka, Jakarta: BPS.

Barnard, M. (2006). Fashion sebagai Komunikasi. Bandung : Jalasutra.

BEKRAF. (2017). Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif. Badan Pusat Statistik: Jakarta.

Cullen et al. (1999). dalam Ambarwati, dan Raharjo. (2018). Prinsip Kepemimpinan Character of A Leader pada Era Generasi Milenial, Semarang: Balai Diklat Keagamaan Semarang, Akademi Kepolisian Semarang.

Era-90an, dalam Outlet: Yogya dalam Sni Rupa Kontemporer Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.

Esmod Jakarta, Fashion and Creation Design Program (2018). esmodjakarta.com

Gibson, J. J. (1979). The ecological approach to visual perception. Boston: Houghton Mifflin.

Gustami Sp. (1991). Seni kriya Indonesia Delema Pembinaan dan Pengembangan, dalam SENI: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni. I/03 – Oktober 1991, B.P. ISI Yogyakrata

Haryono, T. (2002). Terminologi dan Perwujudan Seni Kriya Masa Lalu dan Masa Kini sebuah Pendekatan Historis-Arkeologi. Makalah. Yogyakarta: ISI Yogyakarta

Howe, N., & Strauss, W. (2000). Milenials rising: The next great generation. New York: Vintage Books.

Irianto, A. J. (2000). Konteks Tradisi dan Sosial Politik dalam Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta

Durand, J.N.L. (1802). Précis des leçons d'architecture donnés à l'École Polytechnique, Paris: Chez l'Auteur

Kilber, et. al. (2014). Seven Tips for Managing Generation Y. Journal of Management Policy and Practice. 15: 4, 80-9.

Lathouri, M. (2011). The City as a Project: Types, Typical, Objects and Typologies. London: AA Publications.

Loudon, D.L, dan Della Bitta, A.J. (1993). Consumer Behavior: Concepts and Application. Singapore: Mc.Grow-Hill, Inc.

Lyons, S. (2004). An exploration of generational values in life and at work. Dissertation Abstracts International.

Mannheim, K. (1952). The Problem of Generations. Dalam P. Kecskemeti (Ed.), Essays on the Sociology of Knowledge (pp. 276-320). London: Routledge and Kegan Paul.

Matthes, C. (2015). Understanding How to Market Your Event to Milenials, USA: Spingo Event Management.

Moneo, R. (1978). On Typology: Oppositions, Cambridge: MIT Press.

Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Quatremère de Quincy, Antoine. (1832). Dictionnaire Historique de

L'Architecture, Paris: Librairie d'Adrien Le Clere et cie.

Robertson, L. (2019). This museum believes art is for all. Jakarta: The Jakarta Post

http://infojakarta.net/pasar-baru-sejarah-kawasan-belanja-peninggalan-belanda/ diakses 13/02/2019


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.