STUDI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN SERTA KESESUAIAN

Ilham Nabawi, Liong Ju Tjung, I.G. Oka Sindhu Pribadi
| Abstract views: 44 | views: 31

Abstract

Bogor Regency is an urban area located in West Java Province, with a total administrative area of 293,968 Ha. Bogor Regency included in the National Strategic Region (NSR) plan. Based on Presidential Regulation No. 56 of 2008 about JABODETABEKPUNJUR Space Arrangement, it is established that Bogor Regency has the primary function as water and land conservation area. The establishment of Bogor Regency as water and land conservation area was based on a rather high area topography. For example, the Ciawi Sub-district located on the southern part of Bogor Regency has an estimated topography of 1,500 meters above sea level. Hence, Bogor Regency is the upstream part of the below areas (downstream). Following the establishment of Bogor Regency as water and land conservation area and its higher topography, the control and usage of developed land have to be the main focus for associated regional government. This study aimed to look at developed areas development since 1994 until 2019 with the study time range per 10 years and see whether the existing 2019 condition followed the applied Urban Planning policy. This study needed primary data of recorded satellite images from 1994, 2004, 2014, and 2019 using the remote sensing method. Based on the conducted study, the development of developed areas in Bogor Regency is 3% on average per year and tend to follow the infrastructure development, especially in the eastern part of Bogor Regency. As for the suitability, the comparison of the existing condition with the applied Urban Planning shows that the suggested area percentage is under control.

 

Keywords: development land, remote sensing, RTRW


Abstrak

Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah perkotaan yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, dengan luas total wilayah administrasi 293,968 Ha. Kabupaten Bogor termasuk ke dalam perencanaan Kawasan Strategis Nasional (KSN). Berdasarkan peraturan Presiden (PP) no.56 Tahun 2008 mengenai Penataan Ruang JABODETABEKPUNJUR ditetapkan bahwa Kabupaten Bogor mempunyai fungsi utama sebagai daerah konservasi bagi air dan tanah. Penetapan Kabupaten Bogor sebagai daerah konservasi air dan tanah bukan tanpa sebab, secara geografis memiliki topografi cukup tinggi, contohnya Kecamatan Ciawi yang terdapat dibagian selatan Kabupaten Bogor memiliki kisaran topografi yaitu ± 1.500 mdpl sehingga dapat dikatakan Kabupaten Bogor merupakan daerah hulu bagi daerah yang lebih rendah (hilir). Dengan ditetapkannya sebagai daerah konservasi air dan tanah serta juga merupakan wilayah yang memiliki topografi lebih tinggi bagi sekitarnya, pengendalian serta penggunaan lahan terbangun juga harus menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah terkait. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan lahan terbangun sejak tahun 1994 hinggga tahun 2019 dengan rentan waktu peneitian dibagi menjadi setiap 10 tahun, serta melihat apakah kondisi eksisting 2019 sudah seuai dengan kebijakan RTRW yang berlaku atau tidak. Pada penelitain ini akan dibutuhkan data primer berupa citra satelit perekaman tahun 1994,2004,2014, dan 2019 dengan menggunakan metode remote sensing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat faktwa bahwa pertumbuhan lahan terbangun yang terjadi diwilayah Kabupaten Bogor rata-rata sebesar 3%/tahun dan cenderung mengkuti perkembangan infrastruktur jalan khususnya wilayah timur dari Kabupaten Bogor, sedangkan untuk kesesuaianya, kondisi eksisting dibandingkan dengan rencana RTRW yang berlaku presentase luas yang dianjurkan masih dalam kondisi cukup terkontrol.


Keywords

lahan terbangun ; remote sensing ; RTRW

Full Text:

PDF

References

Bintarto. (1997). Pengantar Geografi Kota. Yogyakarta: Spring.

Dani, E. T. (2017). Analisis penggunaan lahan dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Bogor. Jurnal Tata Loka, 19.

Djakapermana, R. D. (2010). Pengembangan Wilayah Melalui Pendekatan Kesisteman. Bogor: IPB Press.

Hundani, D. (2018, Maret 28). Hubungan Infrastruktur dalam Tata Kelola Perkotaan di Indonesia. Retrieved Juni 13, 2020, from https://www.kompasiana.com/danikahudani/5aba9a3cdd0fa82bf42b4232/infrastr uktur-dalam-tata-kelola-perkotaan-di-indonesia?page=1

Kostof, S. (1991). In S. Kostof, The City Shaped: Urban Patterns and Meanings Through History.

New York: Thames & Hudson.

Soetomo, S. (2009). Urbanisasi dan Morfologi. Yogyakarta : Graha Ilmu. Sujarto, D. (1989). Perencanaan Fisik. Bandung: Bharata.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.