TRIBUN SEPAKBOLA BERBASIS ALAM SEBAGAI TEMPAT BERAKTIVITAS PUBLIK DI KELURAHAN KALIANYAR

Christopher Tjandrawira, Petrus Rudi Kasimun
| Abstract views: 41 | views: 21

Abstract

As one of the most populous sub-districts in Jakarta ,Kalianyar is experiencing social and health problems due to lack of green space which causes lack of space for activities and the emergence of various diseases. Kalianyar actually has a soccer field that can be used as a substitute for a green space, but until now, it has never been used because of its hidden location and exclusivity. This project aims to utilize the field to become a third place with natural nuances that can accommodate the activities of the community. A field, which is merely space, will not immediately become a "third place". A design is required, which in this case, a stands that support and connect the field, to give activities to the empty field so it can be a place of activity. The Tribune, in general, is an exclusive building to football fans, so an analysis that focuses on activities and materials is needed so that the design can be a green open space for the whole society of Kalianyar. The method used is  architectural design method with an ecological architecture approach. The results obtained is bamboo tribune. given the lack of space and cost, the use of bamboo material can be a solution because it can grow quickly, economically good and can provide a natural green space to the environment.

 

Keywords: Green open space; Public Activity; Tribune


Abstrak

Sebagai salah satu kelurahan terpadat di Jakarta, Kalianyar mengalami permasalahan sosial dan kesehatan karena kurangnya ruang hijau yang  menyebabkan kurangnya ruang untuk beraktivitas dan munculnya berbagai macam penyakit. Kalianyar sebenarnya memiliki sebuah lapangan sepakbola yang  dapat digunakan sebagai pengganti dari sebuah ruang hijau, namun hingga sekarang, tidak pernah dimanfaatkan akibat lokasinya yang tersembunyi dan eksklusifitas lapangan. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan lapangan tersebut menjadi sebuah tempat ketiga dengan nuansa alam yang dapat mewadahi aktivitas masyarakatnya. Sebuah lapangan, yang merupakan sekadar ruang, tidak akan seketika menjadi sebuah “tempat ketiga”. Sebuah desain diperlukan, yang dalam kasus ini, sebuah tribun yang menjadi, pendukung, dan penghubung pada lapangan, untuk menghidupkan dan memberi aktivitas pada lapangan kosong tersebut agar dapat menjadi sebuah tempat beraktivitas. Tribun, secara umum merupakan bangunan yang eksklusif oleh penggemar sepakbola, sehingga diperlukan analisis yang berfokus pada aktivitas dan material agar desain dapat menjadi ruang terbuka hijau bagi seluruh masyarakat Kalianyar. Metode yang digunakan merupakan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan Arsitektur ekologi. Hasil yang didapat berupa tribun bambu. mengingat minimnya ruang dan biaya, penggunaan material bambu dapat menjadi solusi karena dapat tumbuh dengan cepat, ekonomis serta dapat memberikan  ruang hijau secara alami kepada lingkungan.


Keywords

Aktivitas publik; Ruang terbuka hijau; Tribun

Full Text:

PDF

References

Berman, M. G., Jonides, J., Kaplan & Stephen. (2008). The Cognitive Benefits of Interacting With Nature. Psychological Science.

Bureau of Municipal Research. (1971). Urban Open Space: Luxury Or Necessity?. Toronto: The Bureau.

Francis, J., Giles-Corti, B., Wood, L. & Knuiman, M. (2012). Creating sense of community: The role of public space.

Fuller, R. A., Irvine, K. N., Devine-Wright, P., Warren, P. H. & Gaston, K. J. (2007). Psychological benefits of greenspace increase with biodiversity.

Hadiyanto, H. (2020). Faktor Resiko Tuberkulosis pada penduduk urban di Kalianyar, Jakarta Barat.

Hartig, T. (2007). Three steps to understanding restorative environments as health resources. Open Space People Space.

Jeffres. (2009). The Impact of Third Places on Community Quality of Life. Cleveland: Cleveland State University Engaged Scholarship.

Kingsley, M. (2019). Commentary - Climate change, health and green space co-benefits. Health Promotion and Chronic Disease Prevention in Canada.

Maas, J., Verheij, Robert A., Groenewegen, Peter P., Vries, Sjerp, Spreeuwenberg & Peter (2006). Green space, urbanity, and health: how strong is the relation?.

Mitchell, R. (2013). Is physical activity in natural environments better for mental health than physical activity in other environments?. Social Science & Medicine.

Myers, M (1975). Decision Making in Allocating Metropolitan Open Space: State of the Art.

Oldenburg, R. (1991). The great good places Cafes, Coffee Shops, Community Centers, Beauty Parlors, General Stores, Bars, Hangouts, and How They Get You Through the Day. New York: Paragon House.

Pemerintah Kota DKI Jakarta (2011). Rencana tata ruang DKI Jakarta 2011-2030.

Pps.org. (2016). You Asked We Answered: 6 Examples of what makes a great public space. Diunduh 10 Februari 2019,

Shishegar, N. (2013). The Impact of Green Areas on Mitigating Urban Heat Island Effect: A Review. The International Journal of Environmental Sustainability.

Thompson, C. W. (2013). Activity, exercise and the planning and design of outdoor spaces


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.