CLUB HOUSE REKREASI DAN SENI

Vicky Agusta Setiawan, Mieke Choandi
| Abstract views: 172 | views: 74

Abstract

Jakarta City as the capital city of Indonesia is a city with a population of 10.504.100 people (Jakarta Central Agency, 2019) and population density wih an average of 16.704 people/ km2. The population of Jakarta is crowded with various educational, economics, socio-cultural, and diverse backgrounds, making the people of Jakarta living in environment  and daily activities that vary. Every day, the most common things they do are activities at home and at school or workplace. Gradually activities into routines, then people starting to experience “boredom”. One solution to get rid of this “boredom” is required a place where everyone can rest, interact, express and entertain themselves, which  usually in the form of Third Place. Duri Kosambi area consists of three housing whose inhabitants rarely interact with each other. The area was then surveyed as a form of conventional design methods to determine the needs of residents. Third Place that can be built between three different characteristics housing is a Club House with ‘recreation and art’ theme. ‘Recreation’ to get rid of “boredom” and ‘Art’ which is to develop the creativity and special skills of the residents. It’s main programs are painting workshop, dance and music studio. This Club House Recreation and Art aims to create a new meeting point for the three different housing. With the opening of access point for the whole society, it also tries to create new interactions between fellow residents with diverse backgrounds to further develop a sense of brotherhood, mutual respect, sharing ideas and information.

 

Keywords: boredom; club house; housing; recreation and art, third place

 

Abstrak

Jakarta, ibukota negara Indonesia merupakan kota yang jumlah penduduk mencapai 10.504.100 jiwa (Badan Pusat Statistik Jakarta, 2019) dengan kepadatan penduduk mencapai 16.704 jiwa/km2. Kepadatan penduduk Jakarta  yang beragam pendidikan, sosial ekonomi dan budaya, membuat kota Jakarta hidup di dalam lingkungan dengan ciri khas dan aktivitas keseharian yang berbeda-beda pula. Setiap harinya penduduk Jakarta melakukan berbagai aktivitas, yang paling umum ialah di rumah dan di sekolah atau tempat kerja. Lama-kelamaan aktivitas menjadi sebuah rutinitas. Ketika aktivitas menjadi sebuah rutinitas, manusia pasti mengalami “kejenuhan”. Salah satu solusi untuk menghilangkan “kejenuhan” ini diperlukan sebuah wadah di mana semua golongan masyarakat dapat beristirahat, berinteraksi, berekspresi dan menghibur diri dari rutinitas  mereka hadapi, di mana seringkali wujudnya berupa Third Place. Kawasan Duri Kosambi  terdiri dari tiga perumahan yang penghuninya jarang berinteraksi. Kawasan ini kemudian di survey sebagai bentuk metode perancangan konvensional untuk mengetahui kebutuhan warga. Salah satu Third Place yang dapat muncul di tengah-tengah ke tiga perumahan dengan karakteristik masyarakat yang beragam yaitu sebuah Club House yang lebih bertema ‘rekreasi dan seni’. ‘Rekreasi’ untuk melepas “kejenuhan” dan ‘Seni’ berupa penambahan fasilitas kawasan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan bagi warga masyarakat setempat. Dengan program utama berupa fasilitas lokakarya melukis, sanggar tari, dan studio musik. Club House Rekreasi dan Seni, diharapkan dapat menjadi titik simpul berkumpul dan beraktivitas bersama bagi setiap warga dari ke tiga perumahan berbeda. Dengan terbukanya akses bagi seluruh masyarakat, maka diharapkan terjadi interaksi antar sesama warga Duri Kosambi dari berbagai kalangan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan, saling menghormati, saling berbagi ide dan informasi.

Keywords

club house; kejenuhan; perumahan; rekreasi dan seni; third place

Full Text:

PDF

References

Akcan, E. (1984). Open Architecture: Migration, Citizenship and the Urban Renewal of Berlin-Kreuzberg. Basel

Archdaily. PIXELAND / 100architects. Diakses 15 Februari 2020, dari

https://www.archdaily.com/915563/pixeland-100architects

Architizer.A Thousand Yards Botanical Pavilion. Diakses 15 Februari 2020, dari

https://architizer.com/projects/a-thousand-yards-pavilion/

Architizer. Alun Alun Cicendo 'Steel Plaza'. Diakses 15 Februari 2020, dari

https://architizer.com/projects/alun-alun-cicendo-steel-plaza/

Badan Pusat Statistik. Jumlah Penduduk DKI Jakarta. Diakses 12 Februari 2020, dari https://www.jakarta.bps.go.id/

Badan Pusat Statistik. Jumlah Penduduk Kecamatan Cengkareng. Diakses 12 Februari 2020, dari https://www.jakarta.bps.go.id/

Dezeen. Penda designs modular wooden "village" for Beijing Horticultural Expo. Diakses 15 Februari 2020, dari https://www.dezeen.com/2017/01/19/penda-thousand-yards-pavilion-modular-wooden-village-beijing-horticultural-expo/

McLaren, D. & Agyeman, J. (2015). Sharing Cities: A Case for Truly Smart and Sustainable Cities. London: MIT Press

Oldenburg, R. (1999). The Great Good Place. Washington DC: Da Capo Press

Pew Research Center. (2010). Millennials: A Portrait of Generation Next. Washington DC: Pew Research Center

Utomo, W. P. (2019). Indonesia Millennial Report 2019. Jakarta: IDN Research Institute

Copyright (c) 2020 Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.