FASILITAS REKREASI DAN OLAHRAGA INTERAKTIF DI DURI KEPA

Kevin Susantio
| Abstract views: 32 | views: 13

Abstract

Jakarta is a dense city center and has a dense community activity. Amid city density, an open area is needed that can be used for social interaction and relaxation for urban communities without disposing of land in the middle of the city or as much as possible and can be used as an area that is always productive or can be useful at any time. Open Architecture and Third Place is one way to meet those needs. In dense activities in the middle of the city that is filled with busy work to create an individualistic society due to lack of social interaction among residents even around the housing where they live. Third Place aims to create an area for the exchange of information and become a public area that can be accessed by all people. Third Place is the connecting activity between First Place (home) and Second Place (workplace). Amid high density and activities, residents need an area to relax and release stress and exercise to maintain their physical health, amid a crowded and unhealthy city of food and air needs. Following human needs, humans also need entertainment and leisure areas to relieve stress from their problems. Third Place can provide the necessary areas such as areas used for people to gather to exchange information, used for leisure areas, and seeking recreation, one example is sports recreation.

 

Keywords:  interaction; open architecture; recreation; sports; third place

 

Abstrak

Jakarta merupakan sebuah pusat kota yang padat dan memiliki aktivitas masyarakat yang juga padat. Di tengah kepadatan kota yang terjadi, dibutuhkan area terbuka yang bisa digunakan untuk berinteraksi sosial dan relaksasi bagi masyarakat kota tanpa mem buang lahan yang ada di tengah kota atau sebisa mungkin digunakan dengan maksimal dan bisa menjadi sebuah area yang selalu produktif atau bisa bermanfaat setiap saat. Open architecture dan Third place merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di tengah padatnya aktivitas di tengah kota yang dipenuhi dengan sibuknya bekerja sehingga menciptakan masyarakat yang individualis karena kurangnya interaksi sosial di antara para warga bahkan di sekitaran perumahan tempat mereka tinggal. Third Place bertujuan untuk menciptakan area untuk terjadinya pertukaran informasi dan menjadi area publik yang bisa diakses oleh semua masyarakat. Third Place menjadi penghubung aktivitas di antara First place (rumah) dan Second place (tempat bekerja). Di tengah kepadatan dan aktivitas yang tinggi, para warga membutuhkan area untuk relaksasi melepaskan stress dan berolahraga untuk menjaga Kesehatan tubuh mereka, ditengah kota yang padat dan kurang sehat akan keperluan makanan dan udaranya. Sesuai dengan kebutuhan manusia, manusia juga membutuhkan area hiburan dan bersantai untuk menghilangkan stress dari permasalahan mereka. Third place dapat menyediakan area-area yang dibutuhkan seperti area yang digunakan untuk para masyarakat berkumpul untuk saling bertukar informasi, digunakan untuk area santai dan mencari rekreasi, salah satu contohnya adalah rekreasi olahraga.

Keywords

interaksi; olahraga; open architecture; rekreasi; third place

Full Text:

PDF

References

Arendt, H. (1958) The Human Condition; Chicago, The University of Chicago Press.

Oldenburg, R. (1997). The Great, Good Place. Cambridge: Da Capro Press

Oldenburg, R. (1999). The Great Good Place: Cafes, Coffe Shops, Bookstores, Bars, Hair Salons

Tjahjono, G. (2000). Metode Perancangan Suatu Pengantar Untuk Arsitek dan Perancang. Depok: Universitas Indonesia.

Tschumi, B. (2012). Bernard Tschumi Architecture Concepts: Red Is Not a Color. New York: Rizzoli International Publications


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.