Klub Olahraga di Kawasan Kapuk, Jakarta

Edmund Edmund
| Abstract views: 63 | views: 53

Abstract

Jakarta is a large city that has a population of 10,374,235 people on 661.52 km² land, which shows that Jakarta is a very densely populated area in Indonesia. As the capital and as a big city, it certainly has a density of routine activities that can lead to boredom and suppress the mentality of the people who live or come to work. These things should become the attention of the government.To overcome these problems, it is necessary to have a place that can facilitate the community to rest, communicate, and entertain themselves from the busyness that is the main activity of the people in the big cities, called as the third place. With limited time and technological advances, people become lazy to interact and exercise. The issue of the lack of sports facilities in the Jakarta area is also a concern for the Jakarta government. The Regional Representative Council (DPRD) highlighted the lack of sports facilities and infrastructure in Jakarta. People in Indonesia who realize the importance of exercising and doing it are only 27.61%, this figure is a fairly low number compared to that in other countries. With a typology approach to use of space and combined with conventional methods, design can provide good use of space for the community. By creating a new container for sports facilities combined with the concept of third place, it is expected that people can be aware of the importance of interacting, exercising and maintaining physical and non-physical health.

 

Abstrak

Jakarta merupakan kota besar yang memiliki jumlah penduduk sebesar 10.374.235 jiwa dengan luas wilayah 661.52 km², hal ini menunjukkan bahwa kota Jakarta merupakan daerah yang sangat padat akan penduduknya di Indonesia. Sebagai Ibukota dan sebagai kota besar pasti memiliki kepadatan akan aktivitas rutin yang dapat menimbulkan kejenuhan dan menekan mental masyarakat yang tinggal maupun yang datang untuk bekerja. Hal-hal tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya sebuah tempat yang dapat mewadahi masyarakat untuk beristirahat, berkomunikasi, dan menghibur diri dari kesibukan yang menjadi aktivitas utama masyarakat di kota besar yang disebut sebagai the third place. Dengan keterbatasan waktu dan kemajuan teknologi, masyarakat menjadi bermalas-malasan untuk berinteraksi dan berolahraga. Isu mengenai kurangnya fasilitas olahraga di wilayah Jakarta juga menjadi perhatian pemerintah Jakarta. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menyoroti kurangnya sarana dan prasarana olahraga di Jakarta. Masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya berolahraga dan menjalaninya hanya sebesar 27.61%, angka tersebut merupakan angka yang cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. Melalui pendekatan tipologi untuk kegunaan ruang dan dipadukan dengan metode konvensional, desain dapat memberikan kegunaan ruang secara baik untuk masyarakat. Dengan menghadirkan sebuah wadah sarana olahraga baru yang di gabungkan dengan konsep third place diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya berinteraksi, berolahraga dan menjaga kesehatan fisik maupun non fisik.

 

Keywords

fasilitas olahraga; Jakarta; kepadatan aktivitas; olahraga; third place

Full Text:

PDF

References

Akcan, E. (1984). Open Architecture: Migration, Citizenship and the Urban Renewal of Berlin-Kreuzberg. Basel

Badan Pusat Statistik. Jumlah penduduk DKI Jakarta. Jakarta. Dikutip dari https://www.jakarta.bps.go.id/. 3 Agustus 2019.

Departemen Pekerjaan Umum. (1994). Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga. Bandung: Yayasan LPMB

Gaputra, A. D. (2019). Tipologi Stadion Sepak Bola Kontemporer (Objek Studi Gelora Bandung Lautan Api. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Vol. 3, No. 3:244-245.

Gregory, M. A, dkk. (2017). Gelanggang Olahraga Lohoraung di Tagulandang “Folding in Architecture”. Manado: UNSRAT. https://media.neliti.com/media/publications/61264-ID-none.pdf. 13 Januari 2020.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Jakarta: Kemendikbud

Lenny T. T. (2015). DPRD DKI Soroti Kurangnya Sarana dan Prasarana Olahraga. Makalah. Dikutip dari https://www.beritasatu.com/megapolitan/321665/dprd-dki-soroti-kurangnya-sarana-dan-prasarana-olahraga. 20 Agustus 2019.

McLaren, D. dan Agyeman, J. (2015). Sharing Cities: A Case for Truly Smart and Sustainable City. Amerika Serikat

Oldenburg, R. (1997). The Great Good Place. Washington DC: Da Capo Press

Utami, S.H. (2018). Hanya 27,6 Persen Masyarakat Indonesia yang Rajin Olahraga. Makalah. Dikutip dari https://www.suara.com/health/2018/10/03/181414/data-hanya-276-persen-masyarakat-indonesia-yang-rajin-olahraga. 3 Agustus 2019.

Sturzebecher, P. dan Ulrich, S. (2002). Architecture for Sport: New Concept and International Projects for Sport and Leisure. Inggris: Wiley-Academyi.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.