PERPUSTAKAAN UMUM

Tjandra Huann, Agustinus Sutanto
| Abstract views: 94 | views: 65

Abstract

An open space is a need needed by many people. These open space acts as a refreshment space for people whose life is monotone, who does the 8 – 5 work hours. This type of lifestyle could make people have a need for a refreshment for their tired minds. So much people don’t have a place to to go after work, a place where they can refresh and relax at the same time which could lead to stress. These kind of stresses could become physical and psychic problems. Physical problems could relate to heart problems, diabetic problems, and many more. While psychic problems could involve depression, chronic stress, and many more. These kind of stresses could be managed well by getting enough entertainment or an emotional support by socializing with families and friends. But things are a bit different about shift workers, where shift workers don’t have time to socialize with them. For that, a public library with a recreation purpose idea is proposed. This public library applies the concept of Third Place, where this place would be free and open to everybody and anybody. This kind of openness is expected to persuade people to come and interact with each other.

 

Abstrak

Sebuah ruang terbuka sangatlah dibutuhkan oleh berbagai macam orang. Keterbukaan dari ruang tersebut berfungsi juga sebagai ruang “refreshment” bagi para orang – orang yang memiliki hidup yang monoton seperti pekerja. Dimana pekerja pergi bekerja pada pukul 8 pagi dan pulang pada 5 sore. Kehidupan seperti itu membuat seseorang membutuhkan sebuah ruang dimana ia dapat menyegarkan pikirannya yang Lelah. Banyaknya orang – orang yang tidak memiliki tempat untuk bersantai juga dapat membuat seseorang menjadi stres. Stres ini dapat menjalar kepada berbagai macam penyakit fisik maupun psikis. Penyakit fisik yang disebutkan ini menyangkut berbagai macam hal seperti jantung, berat badan (obesitas), dan lain – lain. Sedangkan dalam segi psikis, berbagai macam efek seperti depresi, stres kronis, dan berbagai macam gangguan psikis lainnya. Stres seperti ini dapat dikelola dengan baik saat seseorang bisa mendapatkan hiburan ataupun dukungan emosional saat bertemu dengan sanak saudara ataupun dengan teman – temannya. Tetapi, hal ini berbeda dengan para shift workers, dimana para pekerja malam tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersosialisasi. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah perpustakaan umum dengan tujuan rekreasi dan juga dengan konsep Third Place. Rekreasi disini memiliki artian dimana orang – orang dapat bersantai setelah bekerja dan bersantai membaca buku ataupun bersantai di taman. Dengan menerapkan konsep Third Place, tempat ini bersifat gratis dan juga terbuka kepada semua orang. Keterbukaan ini diharapkan mengundang orang – orang untuk datang dan masuk ke dalam dan terjadi berbagai macam interaksi sosial.

Keywords

pekerja; ruang; stres; terbuka

Full Text:

PDF

References

Duerk, D. P. (1993). Architectural Programming: Information Management for Design. New Jersey: Wiley.

Mclaren, D. dan Agyeman, J. (2015). Sharing Cities: A Case for Truly Smart and Sustainable Cities. Boston: The MIT Press.

Memarovic, N., et.al. (2014). Rethinking Third Places: Contemporary Design With Technology. Vol 10 No 3. http://ci-journal.net/index.php/ciej/article/view/1048/1116. Diakses tanggal 20 Agustus 2019.

Oldenburg, R. (1999). The Great Good Place. Boston: Da Capo Press.

Ratti, C. dan Claudel, M. (2016). The City of Tomorrow: Sensors, Networks, Hackers, and the Future of Urban Life. Connecticut: Yale University Press.

Simplypsychology.org. (2019, 20 Agustus). Maslow's Hierarchy of Needs. Diakses pada 20 Agustus 2019, dari https://www.simplypsychology.org/maslow.html


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.