HORISON KEMATIAN – TAMAN PEMAKAMAN UMUM KARET BIVAK

Kevin Tobias, Agustinus Sutanto
| Abstract views: 9 | views: 18

Abstract

Kota Jakarta terus melakukan perluasan area sejak awal terbentuk. Lansekap kota terus mengalami perubahan namun ada yang tidak. Kuburan sebagai artefak kota yang bertahan mengalami stagnansi dan terancam di alihfungsikan jika tidak sesuai lagi dengan rencana tata kota. Meskipun demikian kuburan di kota memiliki peran penting dalam mengingatkan warganya akan kematian sebagai siklus kehidupan manusia, sehingga mereka tidak larut akan rutinitas kesehariannya. Program wisata ditambahkan ke dalam komplek kuburan untuk memberikan makna-makna baru bagi kuburan melalui perjalanan wisata. Makna-makna tersebut merupakan horizon antara kehidupan dengan kematian yang ditemukan oleh wisatawan di kuburan. Kesadaran akan makna-makna ini dapat dicapai melalui pengalaman fenomenologis bagi penggunanya bertujuan untuk menimbulkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seseorang. Melalui interaksi dengan kematian sebagai tujuan akhir dari kehidupan manusia, kesadaran akan eksistensi diri dapat dihadirkan dan menjadi momen penting bagi seseorang untuk menentukan arah hidupnya. Perjalanan wisata akan bercerita mengenai perjalanan hidup dan sudut pandang seseorang dari lahir, masa kanak-kanak, dewasa, sampai menuju kematian, yang akan disampaikan melalui pengalaman ruang. Diharapkan arsitektur yang dihasilkan mampu untuk menjawab kebutuhan tempat wisata di metropolis di masa depan dan melalui makna-makna yang ditemukan dapat meningkatkan nilai kuburan di dalam kota bagi masyarakat. Kuburan dapat menjadi media bagi masyarakat kota tanpa memandang latar belakang agama apapun untuk memenuhi kebutuhan spiritual setiap individu akan kesadaran eksistensialnya.

Keywords

Kuburan; Metropolis; Spiritual; Wisata

Full Text:

PDF


Refbacks

  • There are currently no refbacks.