RUANG PENYEMBUHAN DENGAN SENI RUPA

Geraldina Triaz, Alvin Hadiwono
| Abstract views: 9 | views: 11

Abstract

rendahnya tingkat pendapatan, kemacetan, dan kurangnya ruang terbuka hijau yang merupakan sarana penyejukan dan tempat berekreasi. Oleh karena itu, dalam lingkup metropolitan seperti Jakarta ini, dibutuhkan ruang-ruang baru yang dapat diakses public, baik secara jangkauan area, maupun secara jangkauan harga. Bertambahnya minat terhadap seni di Jakarta menjadi pertimbangan untuk membuat suatu destinasi wisata rohani yang menggunakan media seni sebagai cara penyembuhan. Efek ini dihasilkan dari kegiatan mengekspresikan diri melalui media seni ini menstimulasi otak untuk menyambungkan jaringan-jaringan di dalamnya agar saling berkomunikasi yang disebut “Brain Plasticity”. Di dalam destinasi wisata ini, terdapat area-area yang dapat diakses public yang berupa ruang terbuka hijau dengan banyak penghijauan yang berada di luar bangunan. Tujuannya adalah agar semua lapisan masyarakat yang datang dapat menikmati ruang terbuka public yang terdapat di bangunan ini meskipun tidak masuk ke dalamnya dan membayar untuk menikmati wisata seni yang ada. Media seni yang digunakan sebagai destinasi wisata juga mengandung unsur penyembuhan bagi pengunjung yang datang. Penyembuhan ini pertama-tama menyembuhkan sisi spiritual pengunjung yang pada akhirnya sisi lain seperti mental dan fisik juga dapat tersembuhkan juga. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melihat-lihat karya seni dan mengerjakan kesenian itu sendiri. Seni rupa diambil menjadi kegiatan utama karena jenis seni itu tidak membutuhkan keahlian khusus, sehingga dapat lebih mudah untuk dilakukan semua orang dengan bantuan terapis yang disediakan.

Keywords

Seni Rupa; Brain Plasticity; Ruang Terbuka Hijau; Spiritual; Terapi Seni

Full Text:

PDF


Refbacks

  • There are currently no refbacks.