PERANCANGAN GEDUNG KANTOR REGENERATIF UNTUK MENGATASI SICK BUILDING SYNDROME DI KORIDOR RASUNA SAID, JAKARTA SELATAN

Main Article Content

Edbert Tanzil
Sidhi Wiguna Teh

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) is a condition in which building occupants experience various health complaints that arise while inside the building and resolve after leaving. Symptoms such as headaches, eye irritation, fatigue, and respiratory problems are often associated with inadequate indoor environmental quality. In large cities like Jakarta, this condition becomes increasingly relevant because most office buildings are located in densely populated areas with poor outdoor air quality, limited natural ventilation, and a high reliance on mechanical air conditioning systems. The Rasuna Said CBD area is one area that is potentially experiencing SBS due to the closed nature of its buildings, aging, and experiencing high urban environmental pressure. This study aims to identify the factors causing SBS in office buildings in Jakarta and formulate mitigation strategies through a regenerative architecture approach. The research method was descriptive-qualitative through the collection of secondary data from literature, technical reports, indoor air quality standards, and analysis of the condition of old buildings in the CBD area. The data obtained were analyzed by comparing air quality, lighting, and humidity parameters with applicable comfort standards for workspaces. The research results show that high carbon dioxide levels, insufficient fresh air circulation, unstable humidity, and the use of high-emission interior materials are the dominant factors in the formation of SBS in office buildings. The implementation of strategies such as hybrid ventilation, double-skin façades, increased natural lighting, the use of low-VOC materials, vegetation integration, and adaptive air management have been shown to significantly improve indoor environmental quality and reduce the risk of SBS.


Keywords: air; circulation; health; office; regenerative


Abstrak


Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kondisi ketika penghuni bangunan mengalami berbagai keluhan kesehatan yang muncul saat berada di dalam gedung dan berkurang setelah meninggalkannya. Gejala seperti sakit kepala, iritasi mata, kelelahan, dan gangguan pernapasan sering dikaitkan dengan kualitas lingkungan dalam ruang yang tidak memadai. Pada kota besar seperti Jakarta, kondisi ini menjadi semakin relevan karena sebagian besar gedung perkantoran berlokasi di kawasan padat dengan kualitas udara luar yang rendah, ventilasi alami terbatas, serta ketergantungan tinggi pada sistem pendingin udara mekanis. Kawasan CBD Rasuna Said merupakan salah satu area yang berpotensi mengalami SBS karena karakter bangunannya yang tertutup, berumur tua, dan mengalami tekanan lingkungan urban yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab SBS pada gedung perkantoran di Jakarta dan merumuskan strategi mitigasi melalui pendekatan arsitektur regeneratif. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui pengumpulan data sekunder dari literatur, laporan teknis, standar kualitas udara dalam ruang, serta analisis kondisi bangunan lama di kawasan CBD. Data yang diperoleh dianalisis dengan membandingkan parameter kualitas udara, pencahayaan, dan kelembapan dengan standar kenyamanan yang berlaku untuk ruang kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar karbon dioksida, kurangnya pergantian udara segar, kelembapan yang tidak stabil, serta penggunaan material interior beremisi tinggi merupakan faktor dominan terbentuknya SBS pada gedung perkantoran. Penerapan strategi seperti ventilasi hybrid, double-skin façade, peningkatan pencahayaan alami, penggunaan material rendah VOC, integrasi vegetasi, serta pengelolaan udara adaptif terbukti dapat meningkatkan kualitas lingkungan dalam ruang dan mengurangi risiko SBS secara signifikan.

Article Details

Section
Articles

References

Browning, W. (2014). 14 PATTERNS OF BIOPHILIC DESIGN IMPROVING HEALTH & WELL-BEING IN THE BUILT ENVIRONMENT. New York: Terrapin Bright Green.

Chao, R., Yan-yung, N., & Lutz, K. (2010). Urban climatic map studies: a review. 22. https://doi.org/10.1002/joc.2237

Kellert, S. R. (2018). Nature by Design : The Practice of Biophilic Design. London: Yale University Press Books.

Laurent, J. G., MacNaughton, P., Jones, E., Young, A. S., Bliss, M., Flanigan, S., . . . Allen, J. G. (2021). ENVIROMENTAL RESEARCH. Associations between acute exposures to PM2.5 and carbon, 12. https://doi.org/10.1088/1748-9326/ac1bd8

Li, J., Chen, S., Xu, H., & Kang, J. (2023). Effects of implanted wood components on environmental restorative quality of indoor informal learning spaces in college. Building and Environment, 30. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2023.110890

Mang, P. (2020). Regenerative Development and Design. Regenerative Development and Design, 34.

Santamouris, M., & Vasilakopoulou, K. (2023). Recent progress on urban heat mitigation technologies. Science Talk, 15. https://doi.org/10.1016/j.sctalk.2022.100105

UNEP. (2022). Global Status Report for Buildings and Construction. Nairobi: UNEP.

Vestabilivy, E., & Li Hadien, C. S. (2023). Pengaruh Suhu Udara Dan Pencahayaan di Ruangan Kelas Terhadap Kejadian Sick Building Syndrom Pada Mahasiswa STIKES Persada Husada Indonesia. Jurnal Persada Husada Indonesia, 12.

Weng, J., Zhang, Y., Chen, Z., Ying, X., Zhu , W., & Sun, Y. (2022). Environmental Research and Public Health. Field Measurements and Analysis of Indoor Environment, 22. https://doi.org/10.3390/ijerph20010554

WHO. (2009). WORLD HEALTH ORGANIZATION. WHO GUIDELINES FOR INDOOR AIR QUALITY DAMPNESS AND MOULD, 248.

WHO. (2021). WHO GUIDELINES FOR INDOOR AIR QUALITY SELECTED. Denmark: WHO.

Yin, J., Zhu, H., & Yuan, J. (2024). Health Impacts of Biophilic Design from a Multisensory Interaction Perspective: Empirical Evidence, Research Designs, and Future Directions. land, 27. https://doi.org/10.3390/land13091448