PENERAPAN METODE BIOFILIK PADA TRANSFORMASI GUBAHAN MASSA RUANG INTERAKTIF BERBASIS EKOLOGIS SEBAGAI BANGUNAN BEYOND ECOLOGY DI KEMANGGISAN

William Japardy, Martin Halim
| Abstract views: 65 | views: 30

Abstract

Beyond Ecology means beyond just the reciprocal relationship between living things and the surrounding environment. The ecological crisis began to be voiced in the 1960s, where most people began to rethink their relationship to nature when human actions began to threaten the balance of nature and alienate humans from life other than themselves. With the world experiencing this acceleration, there are concerns about the sustainability of an ecosystem. Much of the damage to ecosystems caused by human behavior such as hunting for animals, dumping waste, and forest fires that reached their peak in 2019 is caused by human indifference. According to Bintarto, this often happens in large urban areas with high density, causing humans to be indifferent to their environment. The presence of an interactive space based on an ecological design is the answer to the existing problems. As for Jakarta, which is the largest metropolitan city in Indonesia, it is the target in this design, precisely in the Kemanggisan area. Judging from the character of the area, it is dominated by formal education facilities, office areas, and is located around the shopping area. The Stack method from Benjamin Bratton and the biophilic design are the references in this design as an effort to foster a sense of empathy and care for the community towards the environment. The program is in the form of educational institutions and offices as a form of supporting the activities of residents, which are dominated by employees and students. Open areas and stages are a strategy to create an area that does not only focus on community forums and learning but as an area for recreation that does not forget about ecology itself.

 

Keywords:  Activity Spaces; Architectural Biophilic; Recreation; Social Crisis

 

Abstrak

Beyond Ecology berarti melampaui dari hanya sekedar hubungan timbal balik antar mahkluk hidup dengan lingkungan sekitarnya. Krisis ekologi mulai disuarakan sejak tahun 1960-an, dimana sebagian besar orang mulai memikirkan kembali relasi mereka terhadap alam ketika tindakan manusia mulai mengancam keseimbangan alam dan mengasingkan manusia dengan kehidupan selain dirinya. Dengan dunia yang mengalami percepatan ini dikhawatirkan  dengan keberlangsungan suatu ekosistem. Banyak kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh tingkah manusia seperti pemburuan hewan, pembuangan limbah, dan kebakaran hutan yang mencapai puncaknya pada tahun 2019 yang disebabkan oleh sikap ketidakpedulian manusia. Menurut Bintarto, Hal ini sering terjadi di daerah perkotaan besar dengan kepadatan yang tinggi menimbulkan sifat acuh tak acuh manusia dengan lingkungannya. Hadirnya ruang interaktif yang didasarkan pada desain yang ekologis menjadi jawaban dari permasalahan yang ada. Adapun Jakarta yang merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia sehingga menjadi sasaran dalam perancangan kali ini tepatnya di daerah Kemanggisan. Melihat dari karakter kawasannya didominasi oleh fasilitas Pendidikan formal ,area perkantoran, dan berada di sekitar area perbelanjaan. Metode Stack dari Bejamin Bratton serta biofilik desain merupakan acuan pada perancangan ini sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa empati dan peduli masyarakat terhadap lingkungannya. Adapun program yang berupa wadah pendidikan dan perkantoran sebagai bentuk pendukung aktivitas warga sekitar yang didominasi oleh karyawan dan pelajar. Area terbuka dan stage menjadi strategi terciptanya kawasan yang tidak hanya berfokus pada wadah dan pembelajaran masyarakat melainkan sebagai kawasan untuk berekreasi yang tidak lupa dari ekologi itu sendiri.

Keywords

Biofilik Arsitektur; Krisis Sosial; Tempat Rekreasi ; Wadah Aktivitas

Full Text:

PDF

References

Bratton, B. h. (2016). The Stack: On Software and Sovereignty. Cambridge: The MIT Press.

Browning, W., Ryan, C., & Clancy, J. (2014). 14 Pattern Of Biophilic Design. New York: Terrapin Bright Green LLC.

Heriyanto, H. (2005). Majalah Tropika. In H. Heriyanto, Krisis Ekologi dan Spiritualitas Manusia (p. 21). Jakarta: Conservation International Indonesia.

Kollmuss, A., & Agyeman, J. (2002). Environmental Education Research, Vol. 8, No. 3. Mind the Gap: why do people act environmentally and what are the barriers to pro-eviromental Behavior ?, 246-247.

Kurniawan, R. (2020, December 14). Kendaraan Bermotor Sumbang 60 Persen Polusi di Indonesia. Retrieved February 29, 2021, from Kompas.com: https://otomotif.kompas.com/read/2020/12/14/082200615/kendaraan-bermotor-sumbang-60-persen-polusi-di-indonesia

Nasr, S. H. (2005). Antara Tuhan, Manusia, dan Alam. In S. H. Nasr, Jembatan Filosofis dan (p. 28). Yogyakarta: IRCiSoD.

Rastika, I. (2016, 5 20). Delapan Sungai di Jakarta Tercemar. Retrieved Februrary 29, 2021, from Kompas.com: https://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/20/16410211/delapan.sungai.di.jakarta.tercemar.

Satmaidi, E. (2015, August 2). Jurnal Penelitian Hukum. Konsep Deep Ecology Dalam Pengaturan Hukum Lingkungan, 151.

Satmaidi, E. (2015, August 2). Jurnal Penelitian Hukum. Konsep Deep Ecology Dalam Pengaturan Hukum Lingkungan, 151-152.

Sutanto, A. (2021, Februari 4). Dromos Oikos: Notes On The Fifth Ecology. Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia.

Copyright (c) 2022 Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.