MUSEUM GARIS WAKTU TERUMBU KARANG

Main Article Content

Carolina Tedjapranata

Abstract

Climate change causes global warming on earth. This event was preceded by the start of the Industrial Revolution, a shift in the production system from human power to machine power, which encouraged the construction of factories and the transportation system to support manufactured goods. This thing increases the carbon emission gas in the air. Coastal areas are the regions generally defenseless against the adverse consequences of climate change. Coral reefs are oceanic environments that are influenced by environmental change. The condition of coral reefs is getting worse along with the earth's rising temperature and can cause death. This cause affects not only humans but also marine life. Gili Matra is a diving and snorkeling tourism destination that is rich in coral reefs. Supported by the development of a coral garden by the government in Gili Meno fits perfectly with the purpose of this project. By using experimental methods and the technology to build the "Museum of Coral Reef Timeline" project, this project aims to educate, maintain, and research coral reefs that are exhibited as tourist objects to attract tourists and the public, which are expected to increase public awareness and maintain the marine ecosystem, so that it can contribute or make efforts in conserving coral reefs, as well as providing education to the public or tourists to know the richness of coral reefs in Indonesia.

 

Keywords: Coral Reefs; Gili Meno; Museum

 

Abstrak

Perubahan iklim menyebabkan terjadinya pemanasan global di bumi. Peristiwa ini diawali dengan dimulainya Revolusi Industri, sebuah peralihan proses produksi dari tenaga manusia ke sistem mekanis yang mendorong pembangunan pabrik-pabrik dan juga sistem transportasi untuk mendukung distribusi barang-barang hasil produksi. Hal ini tentunya meningkatkan gas emisi karbon di udara. Daerah pesisir adalah daerah yang paling rentan terkena dampak negatif perubahan iklim. Naiknya temperatur bumi berdampak juga pada kenaikan temperatur perairan. Terumbu karang merupakan ekosistem perairan yang terkena dampak dari perubahan iklim. Kondisi terumbu karang kian memburuk seiring dengan naiknya temperatur bumi dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada manusia, tetapi juga biota laut. Gili Matra adalah kawasan destinasi wisata diving dan snorkeling yang kaya akan terumbu karang. Didukung dengan adanya pembangunan kebun karang oleh pemerintah di Gili Meno sangat cocok dengan tujuan dari proyek ini. Dengan melalui metode eksperimental dan penggunaan teknologi membangun proyek “Museum Garis Waktu Terumbu Karang”, proyek ini bertujuan untuk edukasi, pemeliharaan, dan penelitian terumbu karang, serta dipamerkan sebagai objek wisata untuk menarik wisatawan dan masyarakat, yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempertahankan ekosistem laut, sehingga dapat memberikan sumbangan atau upaya dalam melestarikan terumbu karang, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat atau wisatawan untuk mengenal kekayaan terumbu karang di Indonesia.

Article Details

Section
Articles

References

Aldrian E, Karmini M, Budiman. (2011). Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia. Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Asriyana, dan Yuliana. (2012). Produktivitas Perairan. Jakarta: PT Bumi Aksara

BMKG, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofosika, Ekstrem Perubahan Iklim, diunduh 20 Februari 2021, <https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim>

Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019

Dahuri R, Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ. (2001). Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: Balai Pustaka.

Dewan Nasional Perubahan Iklim. (2013). Perubahan Iklim dan Tantangan Perubahan Bangsa. Dewan Nasional Perubahan Iklim. Jakarta.

Hadi, G., dkk. (2017). Status Terumbu Karang Indonesia 2018. Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2018.

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2007). Climate Change 2007 – Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the

Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2001). Climate change 2001: Impacts, Adaptation, And Vulnerability: Contribution of Working Group II to the third assessment report of the 74 Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.

KKP, Kawasan Konservasi Perairan, Profil TWP. Gili Matra dan Laut Sekitarnya, diunduh 20 Februari 2021, <https://kkp.go.id/djprl/bkkpnkupang/page/2442-profil-twp-gili-matra-dan-laut-sekitarnya>

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. (2014). Pengarus-utamaan Biaya Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Dalam Perencanaan Pembangunan. Volume 8 No. 7.

Pena, W. M. (2001). Problem Seeking An Architectural Programming Primer 4th Edition.

Setiawan, F., Muttaqin, A., Tarigan S.A. (2017). Dampak Pemutihan Karang Tahun 2016 Terhadap Ekosistem Terumbu Karang: Studi Kasus Di TWP Gili Matra (Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan) Provinsi NTB. Jurnal Kelautan Vol.10. No. 2. 2017.

Wahyono, dkk. (2011). Membuat Pupuk Organik Granul dari Aneka Limbah. Jakarta Selatan: PT. Agromedia Pustaka.

Winarno, R. (1992). Ekologi sebagai Dasar untuk Memahami Tatanan dalam Lingkungan Hidup. 29 Desember 1992, Malang, Indonesia.

Zurba, N. (2019). Pengenalan Terumbu Karang, Sebagai Pondasi Utama Laut Kita. Sulawesi: Unimal Press.