Retorika Digital dan Social Network Analysis Generasi Milenial Tionghoa melalui Youtube

Sinta Paramita, Lydia Irena
| Abstract views: 743 | views: 1279

Abstract

The millennial generation of ethnic Chinese is a native digital generation that contributes to technological development. With strong skills and understanding in communicating creative messages through technology, the Chinese millennial generation also contributed to the development of Indonesia's digital culture. Technological developments have resulted in new jobs such as Youtube. Youtuber is someone who creates interesting audio-visual content so that the audience is interested and makes the content as entertainment or certain recommendations. By using the theory of rhetoric put forward by Aristotle, this study will look at the crowds of information flow in one content and see the strength of content as what was created to attract the attention of the audience. By using a quantitative approach through the Social Network Analysis (SNA) method. This study aims to describe the complexity of network communication in content and find out the digital rhetoric of the Chinese millennial generation that is currently developing in creating digital content. The results of the analysis show a high centralized value approaching 1, the results obtained in this study 0.052 indicate there is an account that dominates the information in the content. A density value of 0 indicates that there are no closely related accounts in the content. Reciprocity or reciprocal values 0 indicate that there is no two-way communication. The modularity or community values in the group 0.763 indicate that in the content there is a split network that cones to a certain account. The value of the diameter or the longest distance between network accounts reaches number 4, content with the power of deliberative rhetoric is proven to be able to attract the attention of the audience

 

Generasi milenial etnis Tionghoa adalah generasi native digital yang turut berkontribusi pada perkembangan teknologi. Dengan kecakapan dan pemahaman yang kuat dalam mengkomunikasikan pesan-pesan kreatif melalui teknologi, generasi milenial Tionghoa pun berkontribusi pada pengembangan budaya digital Indonesia. Perkembangan teknologi telah menghasilkan pekerjaan baru salah satunya seperti Youtuber. Youtuber adalah seseorang yang menciptakan konten-konten audio visual yang menarik sehingga khalayak tertarik dan menjadikan konten tersebut sebagai hiburan atau rekomendasi tertentu. Dengan menggunakan teori retorika yang dikemukakan oleh Aristoteles, penelitian ini akan melihat keramaian arus informasi dalam satu konten dan melihat kekuatan konten seperti apa yang diciptakan untuk menarik perhatian khalayak. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode Social Netwok Analysis (SNA). Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan kompleksitas komunikasi jaringan dalam sebuah konten dan mengetahui retorika digital generasi milenial Tionghoa yang berkembang saat ini dalam membuat konten digital. Hasil analisis menunjukkan Nilai sentralisasi tinggi mendekati 1, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini 0.052 menunjukkan terdapat akun yang mendominasi informasi dalam konten tersebut. Nilai density atau kepadatan 0 menunjukkan tidak ada akun yang terhubung secara erat dalam konten tersebut. Nilai reciprocity atau timbal balik 0 menunjukkan tidak ada yang menunjukkan komunikasi dua arah. Nilai modulitas atau komunitas di dalam kelompok 0.763 menunjukkan bahwa di dalam konten tersebut terjadi perpecahan jaringan yang mengerucut kepada akun akun tertentu. Nilai diameter atau jarak terpanjang antara akun jaringan mencapai angka 4, Konten dengan kekuatan retorika deliberative terbukti dapat menarik perhatian khalayak.

Keywords

Digital Rhetoric; Social Network Analysis; Chinese Millennial Generation; Retorika Digital; Social Netwok Analysis; Generasi Milenial Tionghoa

Full Text:

PDF

References

Teknopreuner, 1(Hasil Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017), 1–39.

Budiman, H. (2018). Pemanfaatan Retorika Dalam Bidang Ekonomi Pada Proses Transaksi Jual Beli Ikan Di Pasar Keppo. Jurnal Komposisi, 1(1), 11–20. Retrieved from

http://ejournal.unira.ac.id/index.php/jurnal_komposisi/article/view/368

Faisal, M. (2018). Gernerasi Phi Memahami Milenial Mengubah Indonesia. Jakarta: Republika Penerbit.

GetCRAFT. (2018). Indonesia Native Advertising And Influencer Marketing Report 2018. Retrieved from https://academy.getcraft.com/hubfs/Whitepaper File/2018/GetCRAFT - Indonesia Native Advertising & Influencer Marketing Report 2018.pdf

Littlejohn, S. W. (2002). Theories of Human Communication (edisi ketujuh). Belmont: Thomson Learning.

Moriansyah, L. (2015). Pemasaran Melalui Media Sosial: Antecedents Dan Consequences. Jurnal Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 19(3), 187–196. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.33299/jpkop.19.3.346

Pelly, U. (2018). Akar Kerusuhan Etnis di Indonesia : Suatu Kajian Awal Konflik dan Disintegrasi Nasional di Era Reformasi. Antropologi Indonesia. https://doi.org/10.7454/ai.v0i58.3363

Prasetiantono, A. T. (2018). Revolusi Industri 4.0 – Pusat Studi Ekonomi Dan Kebijakan Publik. Retrieved February 6, 2020, from https://psekp.ugm.ac.id/2018/04/10/revolusi-industri-4-0/

Richard, W., & Turner, H. L. (2017). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Tapscott, D. (2013). Grown Up Digital Yang Muda Yang Menggubah Dunia. Jakarta: PT Kompas Gramedia Pustaka Utama.

Zaenudin, A. (2018). Influencer di Media Sosial, Penantang Tangguh Iklan Konvensional. Retrieved February 6, 2020, from https://tirto.id/influencer-di-media-sosial-penantang-tangguh-iklan-konvensional-cEfr

Copyright (c) 2020 Jurnal Komunikasi
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.