ANALISIS PERBANDINGAN PENURUNAN FONDASI DANGKAL DI TANAH GAMBUT DENGAN STABILISASI KAPUR DAN ABU SEKAM PADI

Aviva Stevani, Chaidir Anwar Makarim
| Abstract views: 35 | views: 24

Abstract

The increase in housing needs is in line with the increase in the population. Residential buildings in Indonesia are only about 1-2 floors, which require shallow foundations to support. Land is one of the important aspects, where it supports the entire building that stands on it. One of the development constraints encountered in Kalimantan is the peat soil. The construction on peatland will cause problems such as low bearing capacity and large deformation, therefore it needs improvement before use. This study aims to find out the overview of shallow foundation settlement  with a size of 2 m x 2 m with a depth of 1 m in untreated soils with a thickness of 6 m and in stabilized peat soils. Stabilization used by 10% of the dry weight of the soil with a content of 30% lime + 70% ash husk rice. Calculation of the settlement in stabilized peat soil, there’re 5 variations of stabilization thickness ranging from 2 m – 6m. Within 30 years, the total settlement of untreated peat soil by 1,25828 m, as well as for stabilizing peat soils with a thickness of 2 m - 6 m experienced a total settlement of 0,534587 m to 0,379714 m.

 

Peningkatan kebutuhan rumah tinggal selaras dengan peningkatan jumlah penduduk. Pada umumnya bangunan rumah tinggal di Indonesia hanya berkisar 1- 2 lantai, dimana membutuhkan fondasi dangkal untuk menopang beban. Tanah merupakan salah satu aspek penting, dimana tanah menopang seluruh bangunan yang berdiri diatasnya. Salah satu kendala pembangunan yang ditemui di Kalimantan adalah lapisan tanah gambut. Pembangunan bangunan diatas tanah gambut akan menimbulkan masalah seperti daya dukung yang rendah serta penurunan yang besar, maka dari itu perlu perbaikan sebelum digunakan. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui sebuah gambaran mengenai penurunan fondasi dangkal dengan ukuran 2 m x 2 m dengan kedalaman 1 m pada tanah gambut asli  (untreated soil) dengan ketebalan 6 m serta pada tanah gambut yang telah distabilisasi. Stabilisasi yang digunakan sebesar 10% dari berat kering tanah dengan kadar 30% kapur + 70% abu sekam padi. Perhitungan penurunan pada tanah gambut yang telah distabilisasi, ada 5 variasi ketebalan stabilisasi mulai dari 2 m – 6m. Dalam jangka waktu 30 tahun, penurunan total tanah gambut asli sebesar 1,25828 m, serta untuk tanah gambut stabilisasi dengan ketebalan 2 m – 6 m mengalami penurunan total sebesar 0,534587 m sampai 0,379714 m.

 

Keywords

peat soil; stabilization; shallow foundation; settlement

Full Text:

PDF

References

Agus, F. and Subiksa I.G.M. Lahan Gambut : Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Bogor: Balai Penelitian Tanah, 2008.

Andriesse, J.P. "Nature and Management of Tropical Peat Soils." Soil Resources, Management and Conservation Cervice. FAO Land and Water Development Division. FAO, Rome (1988).

ASTM. "Standard Classification of Peat Samples by Laboratory Testing." Annu. Book ASTM Stand., 4 . D4427-92. 1995. 628.

Das, Braja M. dan Khaled Sobhan. Principles of Geotechnical Engineering, SI Edition. 8th. Stamford: Cengage Learning, 2014.

Hardiyatmo, H.C. Mekanika Tanah 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002.

Hardiyatmo, H.C. Mekanika Tanah 1 . Jakarta : Gramedia Pustaka Umum , 1992. Stabilisasi Tanah Untuk Perkerasan Jalan .Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2010 .

Mochtar, Noor Endah, Faisal Estu Yulianto and Trihanyndo Rendy S. "Pengaruh Usia Stabilisasi pada Tanah Gambut Berserat yang Distabilisasi dengan Campuran CaCO3 dan Pozolan." Jurmal Teknik Sipil, Jurnal Teoretis dan Terapang Bidang Rekayasa Sipil 21 (2014): 57-64.

Muroby, Vicky. "Kajian Tanah Gambut dan Pelaksanaan Konstruksi di Kalimantan Barat." (2020).

Mutalib, et al. "Characterization Distribution adn Utilization of Peat in Malaysia." International Symposium on Tropical Peatland. Kuching, Serawak, Malaysia, 1991.

N.L., Nurida, A. Mulyani and F. Agus. Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Bogor: Balai Penelitian Tanah, 2011.

Noor, Muhammad, Masganti and Fahmuddin Agus. "Pembentukan dan Karakteristik Gambut Tropika Indonesia ." Lahan Gambut Indonesia . 2014.

Nugroho, K. and B. Widodo. "The Effect of Dry-Wet Condition to Peat Sooil Physical Characteristic of Different Degree of Decomposition." Jakarta Symposium Proceeding on Peatlands for people: Natural Resources Functions and Sustainable Management . 2001. 94-102.

Salampak. "Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut yang Disawahkan dengan Pemberian Bahan Amelioran Tanah Mineral Berkadar Besi Tinggi ." Disertasi Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (1999).

Suhardjo, H. and I P.G Widjaja-Adhi. "Chemical Charcteristic of the Upper 30 cms of Peat Soils From Riau." ATA 106. Bull 3 (1976): 74-92.

T-06-2004-B, Pd. Perencanaan Konstruksi Timbunan Jalan Di Atas Tanah Gambut Dengan Metode Prapembebanan. 2004.

USACE. “Bearing Capacity of Soils.” Engineering and Design. 1992.

Wibowo, A. "Peran Lahan Gambut Dalam Perubahan Iklim Global." Jurnal Tekno Hutan Tanaman 2 (2009): 19-26.

Yulianto, F.E. and Mochtar, N.E. "Mixing of Rice Husk Ash (RHA) and Lime For Peat Stabilization." Proceedings of the First Makassar International Conference on Civil Engineering (MICCE2010). March 9 -10 2010.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.