MEDIA SOSIAL, BUDAYA PENGGEMAR SEPAK BOLA DAN (RE) ARTIKULASI DISKURSUS DOMINAN MENGENAI KEISLAMAN

Danang Salahuddin Aditya Lukmana, Shuri Mariasih Gietty Tambunan
| Abstract views: 250 | views: 83

Abstract

Media sosial dan kreatifitas budaya penggemar dapat dianalisis dengan pendekatan multidisiplin untuk membongkar ideologi dominan yang melatarbelakangi praktik budaya tersebut. Selain itu, kajian terhadap media sosial juga dapat menunjukkan bagaimana ranah budaya populer seperti akun penggemar sepak bola ternyata tidak terlepas dari usaha afirmasi diskursus Keislaman dominan yang berkembang di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini. Akan tetapi, apabila diskursus Keislaman terutama yang erat kaitannya dengan tubuh (atau yang berkaitan dengan aurat di media sosial) biasanya dikaitkan dengan perempuan, dalam penelitian ini justru dibicarakan dalam konteks budaya penggemar sepak bola yang didominasi penggemar laki-laki. Pergeseran atau pembalikan diskursus ini dilakukan akun @plesbol dengan cara menarik jumlah penggemar melalui representasi diri sebagai akun yang sarkastik ketika membahas persepakbolaan. Oleh karena itu, analisis dilakukan dengan metode kajian tekstual dan “observation ethnography” untuk melihat bagaimana akun ini melakukan ‘dakwah’ dengan strategi menggabungkan budaya populer fandom dengan ranah keseharian, yaitu diskursus agama, dalam ruang digital. Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana akun tersebut mengemas dan mengartikulasikan nilai-nilai Islami dalam kaitan dengan representasi akun tersebut sebagai akun sepak bola yang kerap menampilkan sarkasme. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa setelah mendapatkan pengikut (follower) cukup banyak, @plesbol juga mengunggah postingan yang mengartikulasikan Keislaman atau mengenai rekonseptualisasi aurat laki-laki dan ajakan ketaatan dalam praktik keIslaman.

 

Social media and fanfare cultural creativity can be analyzed with a multidisciplinary approach to dismantle the dominant ideology that lies behind these cultural practices. In addition, studies on social media can also show how the realm of popular culture such as soccer fan accounts is apparently inseparable from the effort to affirm dominant Islamic discourses that have developed in Indonesia in recent years. However, if Islamic discourse, especially those closely related to the body (or relating to genitals on social media) is usually associated with women, in this study it is discussed in the context of the culture of football fans dominated by male fans. This shift or reversal of discourse is done by @plesbol account by attracting a number of fans through self-representation as a sarcastic account when discussing football. Therefore, the analysis was conducted using textual study method and observation ethnography to see how this account performs 'da'wah' by combining fandom popular culture with everyday realms, namely religious discourse, in the digital space. The main question of this research is how this account packs and articulates Islamic values in relation to the account's representation as a sarcastic football account. Based on the result of the analysis it was found that after getting quite a number of followers, @plesbol also uploaded posts that articulated Islam or regarding the reconceptualization of male genitalia and invitations to obedience in Islamic practices.

Keywords

Fandom; Praktik KeIslaman; Plesbol; Sarkasme;Islamic practice Trailer Vision.

Full Text:

PDF

References

Berger, P. L. (1999). The Desecularization of the World : Resurgent Religion and World Politics, Washington: Ethics and Publics Policy Centre.

Heryanto, A. (2015). Identitas dan Kenikmatan : Politik Budaya Layar Indonesia. Terjemahan oleh Eric Sasono. Jakarta: Keputakaan Populer Gramedia.

Jenkins, H. (2012). Textual poachers: Television fans and participatory culture. London: Routledge.

Kozinets, R. V. (1998). On netnography: Initial reflections on consumer research investigations of cyberculture. ACR North American Advances.

Lim, M. (2013). Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia. Journal of Contemporary Asia. Vol. 43, No. 4, 636–657

Mainsah , H. N. (2017). Social media, design and creative citizenship: an introduction, Digital Creativity, 28:1, 1-7, DOI: 10.1080/14626268.2017.1306568

Marwick, Alice E dan Boyd, Danah. 2010. I tweet honestly, I tweet passionately: Twitter users, context collapse, and the imagined audience. London: Sage Publication.

Obiegbu, C. J., Larsen, G., Ellis, N., & O’Reilly, D. (2019). Co-constructing loyalty in an era of digital music fandom: An experiential-discursive perspective. European Journal of Marketing.

Paramaditha, I. (2010). Passing and Conversion Narratives: Ayat-Ayat Cinta and Muslim Performativity in Contemporary Indonesia, Asian Cinema, 21 (2): 69-91

Van Wichelen, S. (2010). Religion, politics and gender in Indonesia: Disputing the Muslim body. New York: Routledge.

Copyright (c) 2020 Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.