HUBUNGAN KUALITAS BERPACARAN DAN KECEMASAN MENIKAH PADA GENERASI Z

Main Article Content

Argea Intania Mutiasari
Riana Sahrani

Abstract

Kualitas hubungan adalah hasil evaluasi subjektif mengenai evaluasi negatif atau positif individu kepada pasangannya untuk melihat apakah pasangannya sesuai atau tidak selama menjalani hubungan bersama. Kualitas hubungan yang baik dapat membuat individu lebih bahagia dan menurunkan resiko terkait kesehatan mental seseorang. Sebaliknya ketika individu memiliki kualitas hubungan yang buruk maka dapat mempengaruhi individu dalam menjalani hubungannya yaitu tidak adanya wellbeing antar satu sama lain karena merasa tidak memiliki hal yang akan terasa lebih baik. Kualitas hubungan mempunyai beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu: (a) Kepuasan (Satisfaction); (b) Kepercayaan (Trust); (c) Komitmen (Commitment); (d) Gairah (Passion); (e) Keintiman (intimacy); (f) Cinta (Love). Semakin tinggi tingkat kualitas hubungannya maka akan semakin rendah tingkat kecemasannya begitupun sebaliknya. Kecemasan adalah perasan ketakutan yang dirasakan oleh individu biasanya ketakutan ini berasal dari naluri manusia yang bersifat realistis maupun tidak realistis dan biasanya hal ini bersangkutan dengan masalah kejiwaan seseorang. Kecemasan biasanya digambarkan didalam kehidupan sehari-hari sebagai perasaan dimana individu merasa kurang nyaman dan tidak menemukan ketenangan dalam dirinya. Aspek-Aspek dari kecemasan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : (a) Reaksi emosional; (b) Reaksi Kognitif; (c) Reaksi Fisiologis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional yang melibatkan 295 partisipan dengan teknik purposive sampling menggunakan 2 alat ukur yaitu menggunakan Perceived Relationship Quality-Component (PRQ-C) untuk variabel kualitas hubungan dan Taylor Manifest Anxiety Scale untuk variabel kecemasan menikah. Pada hasil penelitian ini menjelaskan bahwa adanya hubungan negative signifikan antara kualitas hubungan dan kecemasan menikah dimana semak (r = -0,756, p>0,05).

Article Details

Section
Articles

References

Angela, I., & Ariela, J. (2021). Pengaruh dimensi attachment avoidance dan anxiety terhadap kualitas hubungan berpacaran dewasa muda. Jurnal Psikologi Udayana, 8(1), 36. https://doi.org/10.24843/jpu.2021.v08.i01.p04

Aprilia, I., & Sahmiar, S. (2023). Analisis Putusnya Perkawinan Akibat Pertengkaran Karena Media Sosial di Pengadilan Agama Kota Kisaran. Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, 6, 472–486. https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/kamaya

Audinovic, V., & Nugroho, R. S. (2023). Persepsi Childfree Di Kalangan Generasi Zilenial Jawa Timur. Jurnal Keluarga Berencana, 8(1), 1–11. https://doi.org/10.37306/kkb.v8i1.132

Bethune, S. (2019). Gen Z more likely to report mental health concerns. American Psychological Asociation, 50(1), 20.

Budury, S., Fitriasari, A., & -, K. (2019). Penggunaan Media Sosial Terhadap Kejadian Depresi, Kecemasan Dan Stres Pada Mahasiswa. Bali Medika Jurnal, 6(2), 205–208. https://doi.org/10.36376/bmj.v6i2.87

Calhoun, J. F., Acocella, J. R., & Satmoko, R. S. (1990). Psikologi tentang penyesuaian dan hubungan kemanusiaan. Semarang : IKIP Semarang.

Collins, N. L., & Read, S. J. (1990). Adult Attachment, Working Models, and Relationship Quality in Dating Couples. Journal of Personality and Social Psychology, 58(4), 644–663. https://doi.org/10.1037/0022-3514.58.4.644

Dewi, R. Z. (2021). KOMUNIKASI ASERTIF PADA MAHASISWA DUCK SYNDROME DI MOJOKERTO. Jurnal Komunikasi Dan Sosial Humaniora, 2(2), 1–12. http://ejurnal.unim.ac.id/index.php/pawitrakomunika

Faishol, I., & Azzahrah, F. (2022). Perceraian Disebabkan Perselingkuhan (Studi Kasus Satu Keluarga di Kelurahan Oesapa Kupang). Jurnal Hukum Islam, 5(1), 54–67. http://jurnal.iailm.ac.id/index.php/mutawasith

Febbiyani, F., & Adelya, B. (2017). Kematangan emosi remaja dalam pengentasan masalah. Penelitian Guru Indonesia, 02(02), 30–31.

Feldman, R. (2015). Essentials of Understanding Psychology. Sixth edition.

Fletcher, G. J. O., Simpson, J. A., & Thomas, G. (2000). The Measurement of Perceived Relationship Quality Components: A Confirmatory Factor Analytic Approach. Personality and Social Psychology Bulletin, 26(3), 340–354. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/0146167200265007

Girgis, S., George, R. P., & Anderson, R. T. (2012). What Is Marriage : Man and woman: A defense. Encounter Books.

Harris, V. W. (2013). Healthy Dating Leads to Healthy Marriage.

Indrawati, F., Sani, R., & Ariela, J. (2018). Hubungan Antara Harapan Dan Kualitas Hubungan Pada Dewasa Muda Yang Sedang Menjalani Hubungan Pacaran. Jurnal Psikologi Ulayat, 5(1), 72. https://doi.org/10.24854/jpu12018-98

Junaidin, J., Mustafa, K., Hartono, R., & Khoirunnisa, S. (2023). Kecemasan terhadap Pernikahan pada Perempuan Dewasa Awal yang Mengalami Fatherless. Journal on Education, 5(4), 16649–16658. https://doi.org/10.31004/joe.v5i4.2839

Kamil, M. S., Zamzamy, A., Tranggono, D., & Claretta, D. (2023). PENERIMAAN GENERASI Z SURABAYA PADA KARAKTERISTIK GENERASI Z DALAM IKLAN GOJEK “SOLUSI MASALAH OVERTHINKING PILIH MAKANAN, ADA DI VIDEO INI!” Journal Ilmu Komunikasi, 6(2). https://doi.org/10.1155/2023/7341285

Kurniati, A., & Rozali, Y. A. (2020). Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kecemasan Untuk Menikah Pada Wanita Dewasa Awal Dengan Latar Belakang Orangtua Bercerai. JCA Psikologi, 1, 85–92.

Liana, I., & Suryadi, D. (2018). Gambaran Trust Pada Dewasa Awal Yang Mengalami Perceraian Orangtua Dan Sedang Berpacaran (Studi Kasus Di Jakarta). Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni, 2(1), 378. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v2i1.1768

Marwinda, K., & Margono S, Y. B. (2020). Dominasi Laki-Laki Terhadap Perempuan Di Ranah Domestik Dalam Novel Safe Haven Karya Nicholas Sparks. SALINGKA: Majalah Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 17, 179–192. http://salingka.kemdikbud.go.id/index.php/SALINGKA/article/view/316

Ramadhani, K. ., & Tsabitha, D. (2022). Fenomena Childfree dan Prinsip Idealisme Keluarga Indonesia dalam Perspektif Mahasiswa. LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, 11(1), 17–29. https://doi.org/10.18860/lorong.v11i1.2107

Ramaiah, S. (2003). Kecemasan : Bagaimana Mengatasi Penyebabnya. Pustaka Populer Obor.

Rasyidi, A. W., Sahrani, R., Psikologi, M., Jakarta, U. T., Studi, P., Psikologi, F., & Jakarta, U. T. (2019). Peran Dukungan Sosial Dan Strategi Coping Terhadap Self Efficacy Pada Korban Cyberbullying. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni, 3(2), 413–422. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v3i2.6007

Sandra, L. (2021). Adolescent Mental Health Disorders During the Covid-19 Pandemic. 41(Ticmih), 111–119.

Satiadarma, M. P. (2001). Menyikapi Perselingkuhan. Yayasan Obor Indonesia.

Siswanto, A. W., & Nurhasanah. (2022). Analisis Fenomena Childfree di Indonesia. Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 2(2), 64–70. https://doi.org/10.29313/bcsifl.v2i2.2684

Sladek, S., & Grabinger, A. (2016). Gen Z: The first generation of the 21st Century has arrived! XYZ University, 1–15. www.xyzuniversity.com

Sternberg, R. J. (2004). A triangular theory of love. Close Relationships: Key Readings, 93(2), 258–276. https://doi.org/10.4324/9780203311851

Suryadi, D., Chandra, J., Audrey, M., Alodia, N., Mulapoa, C., & Dwininta, A. (2022). Peningkatan Kualitas Hidup Siswa Smkn 1 Lelea Kabupaten Indramayu Dalam Mengatasi Stres Perkembangan Masa Remaja. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia, 5(1), 145–152. https://doi.org/10.24912/jbmi.v5i1.18629

Taylor, J. A. (1953). Taylor Manifest Anxiety Scale. Journal of Consulting Psychology. https://doi.org/https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/t00936-000

Ulya, R., Pratama, M. F., & Chusairi, A. (2023). The role of duration of dating on anxiety and commitment in early adulthood. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 11(2), 112–118. https://doi.org/10.22219/jipt.v11i2.26346

Utami, V., Hakim, L., & Junaidin. (2019). Hubungan Harga Diri dengan Kecemasan Memilih Pasangan Hidup pada Perempuan Dewasa Awal. Jurnal Psimawa Diskursus Ilmu Psikologi Dan Pendidikan, 2(1), 15–20.

Wahyuningish, E., Agus, S., Leo, A., Simroangkir, P., Siti, S., Embun, P., Cahaya, Y. ferry, Ovalia, & Abdullah, A. F. (2022). Jurnal Abdimas Perbanas. Jurnal Abdimas Perbanan, 26–31.