ART THERAPY SEBAGAI BENTUK DARI ACTIVITY THERAPY BAGI PENDERITA HIV YANG MENGALAMI KECEMASAN

Elisa Christina Jaman, Denrich Suryadi, Linda Wati
| Abstract views: 262 | views: 357

Abstract

Penderita HIV/AIDS mengalami krisis kejiwaan pada dirinya, pada keluarganya, pada orang yang dicintainya dan pada masyarakat. Krisis kejiwaan tersebut adalah dalam bentuk kepanikan, ketakutan, kecemasan, serba ketidakpastian, keputusasaan, dan stigma. Penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami secara terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan perasaan negatif seseorang terhadap suatu penyakit. Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan art therapy dapat mengurangi tingkat kecemasan pada warga binaan yang positif mengidap HIV. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuasi-eksperimental. Pengambilan sampel dilakukan pada Lembaga Permasyarakatan X yang melibatkan lima orang warga binaan laki-laki yang positif mengidap HIV dan sedang dalam keadaan cemas. Untuk mengukur tingkat kecemasan alat ukur yang digunakan adalah General Anxiety Disorder 7 (GAD7). Metode intervensi yang digunakan adalah art therapy yang ditemukan dapat menurunkan kecemasan. Setelah sesi intervensi dilakukan, ditemukan adanya penurunan tingkat kecemasan pada kelima partisipan. Hal tersebut terlihat dari perbandingan skor antara skor pre-test dan post-test para partisipan.

Keywords

Art therapy; HIV; kecemasan; intervensi; lembaga pemasyarakatan; warga binaan

Full Text:

PDF

References

Buchalter, S. I. (2009). Art therapy techniques and application. Britain: Athenaeum Press,

Gateshead, Tyne and Wear.

CMHN. (2006). Modul basic course community mental health nursing. Jakarta: WHO FIK UI.

Hawari, D. (2004). Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa”. Edisi III (Revisi).

Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

Kroenke, K., Spitzer, R. L., & Williams, J. B. W. (2001). The PHQ-9: Validity of a brief

depression severity measure. Journal of General Internal Medicine, 16(9), 606–613.

http://doi.org/10.1046/j.1525-1497.2001.016009606

Lubis, N.L. (2009). Depresi: Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana.

Sarafino, E.P. (1998). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction. New York: John Wiley

& Sons Inc.

Slayton, S. C., D’Archer, J., & Kaplan, F. (2010). Outcome Studies on the Efficacy of Art

Therapy: A review of Findings. Art therapy: Journal of the American art therapy

association, 27(3), 108-118.

Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing. (8th ed.).

St. Louis: Mosby Year B.

Taylor, S.E. (1995). Health Psychology. Third Edition. New York: inc. Mc. Graw Hill.

UNAIDS. (2016). Number of people living with HIV. http://aidsinfo.unaids.org. 7 September

Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

Copyright (c) 2018 Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni

Refbacks

  • There are currently no refbacks.