PELATIHAN KONSELING BAGI KOMUNITAS PEMERHATI KELUARGA KATOLIK DI JAKARTA

Widya Risnawaty, Denrich Suryadi
| Abstract views: 8 | views: 9

Abstract

The family, as the smallest unit in society, is the main foundation of healthy and mature personal growth. Therefore, the functioning of the family must be kept and maintained. But in reality, every family faces various challenges. The Catholic Church is very concerned and strives to keep the Catholic family survive and carry out its functions properly. One effort undertaken by the Jakarta Archdiocese Family Apostolic Commission (Kom-KK KAJ) is to provide assistance for families who are having psychological problems in the form of counseling by trained lay counselors. The purpose of this PKM activity is to address the needs of partners related to the importance of knowing how to do counseling in a non-professional context. These lay counselors are non-professionals who have a concern to help others, especially in terms of family assistance. Therefore, Kom-KK KAJ believes that these lay counselors need to be equipped with basic knowledge about the process and how to provide basic counseling so that they can immediately provide assistance. The PKM activities carried out took the form of 16 hours of basic training divided into 2 days of implementation. The number of participants participated was 20 participants. Training is given in the form of theory (60%) and practice (40%). Related to the training material provided includes knowledge of lay counselors and Community Observer Communities, basic theories in counseling, and basic counseling skills include interviews, observation, active listening, paraphrasing, problem identification, and empowerment of counselee. The results show that there is a significant difference between before being given intervention and afterward

ABSTRAK:

Keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat menjadi fondasi utama pertumbuhan pribadi yang sehat dan matang. Oleh karena itu keberfungsian keluarga harus terus dijaga dan dipelihara. Namun pada kenyataanya, setiap keluarga menghadapi tantangan yang beragam. Gereja Katolik sangat peduli dan berupaya untuk menjaga agar keluarga Katolik tetap dapat bertahan dan menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta (Kom-KK KAJ) adalah memberikan pendampingan bagi keluarga yang sedang memiliki masalah psikologis dalam bentuk konseling yang dilakukan oleh para konselor awam terlatih. Tujuan diselenggarakannya kegiatan PKM ini guna menjawab kebutuhan mitra terkait dengan pentingnya mengetahui cara melakukan konseling dalam konteks non-profesional. Para konselor awam ini adalah para non-profesional yang memiliki kepedulian untuk membantu sesama khususnya dalam hal pendampingan keluarga. Oleh karenanya, KOM-KK KAJ berpendapat bahwa para konselor awam ini perlu dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai proses dan cara pemberian konseling dasar agar segera dapat memberikan bantuan pendampingan. Kegiatan PKM yang dilangsungkan berbentuk pelatihan dasar selama 16 jam yang terbagi dalam 2 hari pelaksanaan. Adapun jumlah peserta ikut serta sebanyak 20 orang peserta. Pelatihan diberikan dalam bentuk teori (60%) dan praktik (40%). Terkait dengan materi pelatihan yang diberikan meliputi: pengetahuan mengenai konselor awam dan Komunitas Pemerhati Keluarga, dasar-dasar teori dalam konseling, dan ketrampilan dasar konseling meliputi wawancara, observasi, mendengarkan aktif, memparaphrasekan, identifikasi masalah dan pemberdayaan konseli. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum diberikan intervensi dan sesudahnya.


Keywords

Counseling training; lay counselor; family;;Pelatihan konseling; konselor awam; keluarga

Full Text:

PDF

References

Apriano, A. (2018). Pelayanan Bersama Komunitas Sebagai Model Pelayanan Pastoral Berbasis Paradigma Komunal-Kontekstual dalam Teologi Pastoral. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 4(2), 92-106

Geldard, D., & Geldard, K. (2005). Basic personal counseling: A training manual for counselors. NSW, Australia: Person Education Australia.

Gunarsa, S.D. (1992). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Habur, A.M. (2018). Family Catechesis in the Digital Era. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan MISSIO, 10 (1), 39-47.

Hersen, M. & Van Hasselt, V.B. (1998). Basic interviewing: A practical guide for counselor and clinicians. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Ivey, A. E., Ivey, M. B., & Zalaquett, C. P. (2010). Intentional interviewing and counseling: Facilitating client development in a multicultural society (7th edition). Belmont, CA: Cengage Learning.

Keuskupan Agung Jakarta. (2018). Komisi Kerasulan Keluarga (KOM-KK). http://www.kaj.or.id/komisi/komisi-kerasulan-keluarga-kom-kk. 17 Maret 2019.

Lestari, S. (2012). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Lukas, S. (1993). Where to start and what to ask: An assessment handbook. New York, NY: W.W. Norton & Company, Inc.

Morrison, J. R. (2008). The first interview (3rd ed.). New York, NY: The Guilford Press.

Samuel, P.S., Rillotta, F., & Brown, I. (2012). The development of family qualitby of life concepts and measures. Journal of Intelectual Disability Research. 56 (1).1-16.

Sattler, J.M. (1988). Assesment of children. 3rd ed. San Diego, CA: Jerome M. Publisher

Soetjiningsih. (1995). Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sommers-Flanagan, J., & Sommers-Flanagan, R. (2015). Counseling and psychotherapy theories in context and practice: Skills, strategies, and techniques. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Tim Pusat Pendampingan Keluarga “Brayat Minulyo”. (2007). Kursus Persiapan Hidup Perkawinan.Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Varenhorst, B.B., (2010). Training peer helper: Coaching youth to communicate, solve problems, and make decisions. Minneapolis, MN: Search Institute Press.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.