KAJIAN REVITALISASI KOMPLEKS CAGAR BUDAYA BEKAS GEDUNG RADIO REPUBLIK INDONESIA (RRI) DI KOTA MEDAN SEBAGAI GEDUNG MUSEUM

Wansismar Tumanggor, Wahyu Utami
| Abstract views: 15 | views: 6

Abstract

Cultural heritage buildings should be preserved because they have historical values which are regional assets protected by law. In the city of Medan, there are several cultural heritage complexes. One of them is the former Radio Republik Indonesia building complex (abbreviated as RRI), this complex is a complex that contains old buildings that existed before Indonesia's independence. This complex is not functioned and managed properly, especially for the former RRI building. Therefore, to avoid more severe damage and cause a decrease in the quality of this complex, it is necessary to take actions that can prevent a decrease in the quality of the complex and can make the quality of the complex increase so that the buildings within the complex can function properly. The appropriate action to take is the revitalization of the area. The research methods used are Evidence Based Design (EBD) and Post Occupancy Evaluation (POE). This study aims to obtain data on the problems in the complex, the potential of the complex, the advantages of the complex, and the actions that need to be taken in revitalizing this complex. From the data obtained, this complex is suitable to be revitalized into a telecommunications museum building complex to maintain its previous function, which is to become an information source building and be added to the shape and condition of the building that supports this function.

Bangunan cagar budaya sudah selayaknya dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang merupakan aset daerah yang dilindungi oleh hukum undang-undang. Di kota Medan, terdapat beberapa kompleks cagar budaya. Salah-satunya yaitu kompleks Bekas gedung Radio Republik Indonesia (RRI), kompleks ini merupakan kompleks yang terdapat bangunan-bangunan lama yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Kompleks ini tidak difungsikan dan dikelola dengan baik terutama untuk bekas gedung RRInya. Maka dari itu, untuk menghindari kerusakan yang lebih parah dan menyebabkan penurunan kualitas kompleks ini maka perlu dilakukan tindakan yang dapat mencegah penurunan kualitas kompleks serta dapat membuat kualitas kompleks tersebut meningkat sehingga bangunan didalam kompleks dapat berfungsi dengan baik. Tindakan yang cocok dilakukan yaitu revitalisasi kawasan. Metode penelitian yang digunkan adalah Evidences Based Design (EBD) dan Post Occupancy Evaluation (POE). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai masalah pada kompleks, potensi kompleks, kelebihan kompleks, dan tindakan yang perlu dilakukan dalam merevitalisasi kompleks ini. Dari data yang diperoleh kompleks ini cocok direvitalisasi menjadi kompleks gedung museum telekomunikasi untuk tetap mempertahankan fungsi sebelumnya yaitu menjadi gedung sumber informasi dan ditambah dengan bentuk dan kondisi gedung yang mendukung untuk fungsi tersebut.

 

Keywords

Revitalization, area, cultural heritage, museum

Full Text:

PDF

References

REFERENSI

Erni. (2019). Pengelolaan Pelestarian Situs Cagar Budaya Benteng Rotterdam di Kota Makassar.

Ninla Elmawati Falabiba. (2019). 済無No Title No Title No Title. 69–97.

Perencanaan, K. (2016). MUSEUM TELEKOMUNIKASI.

Putra, A. S. B. (2018). Pemrograman Arsitektur. Universitas Katolik Soegijapranata, 2, 16–87.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, & Budaya, C. (2010). Pk M . G Ha Um. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, 54.

Waani, J. O. (2017). Gaya & Karakter Visual Arsitektur Kolonial Belanda. 14(1), 23–33.

Copyright (c) 2022 PROSIDING SERINA
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.