PENDAMPINGAN BIOKONVERSI SAMPAH ORGANIK MELALUI BUDIDAYA MAGGOT DAN LELE di KAMPUNG BARU, DESA SAMPORA TANGERANG

Wibawa Prasetya, Yanto Yanto, Christine Natalia, Agustinus Silalahi
| Abstract views: 116 | views: 52

Abstract

This time, rubbish is a very serious environmental problem for the people of Kampung Baru, Sampora Village, Tangerang. The increase in population results in an increase in the amount of rubbish. According to data, rubbish production in Tangerang in 2020 reached 22,873 tons, while the rubbish handled was only around 937 tons (4%).This problem needs to be solved immediately. Rubbish generated by households can be in the form of organic or inorganic. If rubbish is not managed properly, it can damage the surrounding environment.The method   used to solve the problem of organic rubbish can be done through bioconversion of organic rubbish into maggot.Organic rubbish is often considered safe because it is easily biodegradable, even though organic rubbish has the potential to damage the environment, This method has advantages, because during the bioconversion process it does not cause unpleasant odors Bioconversion of organic rubbish can be a rubbish management solution that can be offered to the residents of Kampung Baru..Every 1 kg of maggot requires 2 kg of organic rubbish/hour as food. The speed of maggot using organic rubbish  as feed can be an alternative to reduce the amount of organic rubbish.Maggot that is ready to be harvested has a very high protein content, so it can be used as feed for catfish or  poultry.Catfish fed with maggot as feed, at the age of 100 days, each kilogram contained 6 catfish, while catfish fed only with pellets, at the age of 100 days, each kg contained 7-8 catfish. Thus maggot can increase the weight of catfish significantly.In addition, maggot can reduce pellet consumption by up to 75 percent, so it can help catfish farmers in saving feed costs.

Saat ini sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat serius bagi masyarakat Kampung Baru, Desa Sampora, Tangerang. Pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan pertambahan jumlah sampah. Menurut data produksi sampah di Tangerang pada tahun 2020 mencapai 22.873 ton, sedangkan sampah yang tertangani hanya sekitar 937 ton (4%). Permasalahan ini perlu segera dicari solusinya. Sampah  yang dihasilkan oleh rumah tangga dapat berupa sampah organik maupun anorganik. Jika sampah tidak dikelola dengan baik, maka sampah dapat merusak lingkungan sekitar. Sampah organik sering dianggap aman karena mudah terurai, padahal  sampah organik memiliki potensi untuk merusak lingkungan.Metode yang digunakan untuk memecahkan permasalahan sampah organik dapat dilakukan melalui biokonversi sampah organik menjadi maggot. Metode ini mempunyai kelebihan, karena selama proses biokonversi tidak menimbulkan bauyang tidak sedap. Biokonversi sampah organik dapat menjadi  solusi pengolahan sampah yang dapat  ditawarkan kepada penduduk Kampung Baru, Setiap 1 kg maggot membutuhkan 2 kg sampah organik/jam sebagai makanannya. Kecepatan maggot menggunakan sampah organik sebagai pakan, dapat menjadi alternatif untuk mereduksi jumlah sampah organik.  Maggot yang siap dipanen mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai pakan lele atau ternak unggas lainnya. Lele  yang diberi maggot sebagai pakan, pada usia 100 hari, setiap kilogram berisi 6 ekor lele, sedangkan lele yang hanya diberi pakan pelet, pada usia 100 hari,setiap kg berisi 7-8 ekor lele. Dengan demikian maggot dapat meningkatkan berat lele secara signifikan. Selain itu maggot dapat mengurangi konsumsi pelet sampai 75 persen, sehingga dapat membantu peternak lele dalam menghemat biaya pakan.

Keywords

bioconvertion; feed; Maggot; organic rubbish; biokonversi; maggot; pakan; sampah organik

Full Text:

PDF

References

Anonim. (8 Februari 2021). Bahaya Sampah Organik. https://sustaination.id/bahaya- sampah-organik/

Gandi, Niluh Putu Gita., Getas, I Wayan., Jannah, Miftahul.2019. Studi Jamur Aspergillus fumigatuspenyebab Aspergillosis di Pasar Cakranegara Kota Mataram dengan Media Pertumbuhan Potato Dextrose Agar(PDA). Jurnal Analis Medika Bio Sains. Vol.6, No1

Hasan, Ibrahim (14 April 2021). Pengelolaan Sampah dengan Belatung Maggot di Kampung Jelekong. Merdeka.com. https://www.merdeka.com/travel/melihat-sistem-biokonversi-sampah-ramah-lingkungan-di-jelekong.html

Putra, Yongky dan Ariesmayana, Ade. (2020). Efektivitas Penguraian Sampah Organik Menggunakan Maggot (BSF) di Pasar Rau Trade Centre. JURNALIS. Vol.3. No.1.

Sistem Informasi Statistik Daerah Tangerang (2020). Jumlah Produksi sampah menurut Kecamatan di Kabupaten Tangerang Tahun 2020. https://statistik.tangerangkab.go.id/data-sektoral/lingkungan-hidup/2020/jumlah-produksi-sampah-menurut-kecamatan-di-kabupaten-tangerang.

Tampubolon, Manahan P (2012).Perilaku Keorganisasian. Jakarta : PT. Ghalia Indonesia

Taufik,Agus., Maulana, M Fajar (Januari, 2015). SOSIALISASI SAMPAH ORGANIK DAN NON ORGANIK SERTA PELATIHAN KREASI SAMPAH. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan.Vol.4,No.1. hal 66-73

Warih, Andono (2019). Budidaya Maggot dan Bank Sampah, Solusi Atasi Sampah Rumah Tangga DKI. Kompas.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/11/12/16153501/budidaya-maggot-dan-bank-sampah-solusi-atasi-sampah-rumah-tangga-dki?page=all

Wijayanto, Dian (2012). Pengantar Manajemen. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Copyright (c) 2021 Prosiding SENAPENMAS
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.