PENERAPAN ART THERAPY DALAM MENGATASI FOBIA KUCING PADA INDIVIDU DEWASA

Arief Arief, Monty P. Satiadarma, Denrich Suryadi

Abstract


Fobia kucing merupakan specific phobia yang ditandai dengan kecemasan berlebihan saat dihadapkan dengan kucing. Umumnya, fobia diatasi dengan intervensi yang berpendekatan behavioristik dan kognitif. Namun, art therapy merupakan pendekatan lain yang juga dapat digunakan untuk mengatasi fobia. Art therapy bermanfaat membantu individu menghadapi tekanan melalui media seni. Individu merasa aman dengan mengekspresikan pemikiran dan perasaan melalui media seni. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah penerapan art therapy dalam mengatasi fobia kucing pada individu dewasa. Desain dalam penelitian ini adalah kuasi-eksperimen. Pemeriksaan terkait pengalaman-pengalaman tiap partisipan didapatkan dari wawancara. Setelah itu, art therapy dilakukan lima sampai enam sesi untuk mengatasi fobia kucing. Terdapat tiga partisipan yang terlibat dalam penelitian ini. Kondisi fobia ketiga partisipan sesuai dengan kriteria DSM-IV-TR. Salah satu partisipan mengundurkan diri setelah pemeriksaan, karena kediamannya sangat jauh dan jadwal intervensi dapat berpengaruh pada jam kerjanya. Kedua partisipan lainnya dihadapkan dengan kucing di awal, tengah, dan akhir sesi untuk mengetahui penurunan tingkat fobia. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan pulse oximeter, kuesioner Severity Measure for Specific Phobia – Adult, dan Subjective Unit of Discomfort Scale (SUDS). Hasil intervensi menunjukkan partisipan pertama (UK) mengalami penurunan tingkat fobia dari kategori severe hingga mild. Setelah intervensi, UK mampu berjalan di dekat kucing. Sementara itu, partisipan kedua (CF) mengalami penurunan tingkat fobia dari kategori severe hingga moderate. Setelah diberi intervensi, CF sudah mampu mengusir kucing dengan menggunakan sapu dan lebih tenang. Hasil penurunan tingkat fobia antar kedua partisipan tidak signifikan, karena jumlah partisipan yang kurang mencukupi dan kurangnya sikap kooperatif dari salah satu partisipan.


Full Text:

PDF

References


American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (4th ed., text revision). Washington, DC: Author.

Anastasia, M. (2016). Inilah 10 tempat favorit di Jakarta terfavorit pengunjung. Diambil 16 September, 2016, dari http://www.initempatwisata.com/wisata-indonesia/jakarta/inilah-10-tempat-nongkrong-di-jakarta-terfavorit-pengunjung/4234/

Diana, & Wirawan, H. E. (2010). Penerapan cognitive behavior therapy untuk mengatasi fobia kecoa pada remaja. Arkhe, 15(1), h. 11-17.

Edwards, D. (2004). Art therapy. London: Sage.

Harrison, T. R., & Morgan, S. E. (2005). Hanging out among teenager. In C. Morrill, D. A. Snow, & C. H. White (Eds.). Together alone. (p. 94). London: University of California Press.

Hogan, S., & Coulter, A. M. (2014). The introductory guide to art therapy: Experiential teaching and learning for students and practitioners. New York, NY: Routledge.

Kraft, D., & Kraft, T. (2010). Use of in vivo and in vitro desensitization in the treatment of mouse phobia: Review and case study. Contemporary Hypnosis, 27(3), 184-194.

Lebeau, R. T., Glenn, D. E., Hanover, L. E., Beesdo-Baum, K., Wittchen, H. U., & Craske, M. G. (2012). A dimensional approach to measuring anxiety for DSM-5. International Journal of Methods in Psychiatric Research. 21(4), 258-272. doi: 10.1002/mpr.1369

McGlynn, F. D., & Cornell, C. E. (1985). Simple phobia. In M. Hersen, & A. S. Bellack (Eds.), Handbook of clinical behavior therapy wth adults (p. 33). New York, NY: Plenum Press.

Rappaport, L. (2009). Focusing-oriented art therapy. Philadelphia, PA: Jessica Kingsley Publishers/

Rimawan, R. (Ed.). (2014). ‘Ledakan’ populasi kucing liar di Jakarta mengkhawatirkan. Diunduh dari: http://manado.tribunnews.com/2014/

/05/ledakan-populasi-kucing-liar-di-jakarta-mengkhawatirkan

Setiawati, W. (2015). Inilah tiga pertanda jika kucing mendekati kita saat makan. Diambil 16 September, 2016, dari http://www.infoyunik.com/2015/08/inilah-tiga-pertanda-jika-kucing-datang.html

Sinaga, A. P. (2014). Perlu lebih banyak komunitas penampung hewan liar. Diambil 15 Oktober, 2016, dari http://www.tubasmedia.com/perlu-lebih-banyak-komunitas-penampung-hewan-liar/

Sue, D., Sue, D. W., dan Sue, S. (2010). Understanding abnormal behavior (9th ed.). Belmont, CA: Wadsworth Cengage Learning.

Uttley, L., Stevenson, M., Scope, A., Rawdlin, A., & Sutton, A. (2015). Clinical and cost effectiveness of group art therapy for people with non-psychotic mental health disorders: A systematic review and cost effectiveness analysis. BMC Psychiatry, 15(151), 1-13. doi: 10.1186/s12888-015-0528-4

Wima, P. (2015). 8 derita ini cuma orang ga suka kucing aja yang memahami! Diambil 8 September, 2016, dari http://www.hipwee.com/hiburan/8-derita-ini-cuma-orang-yang-gak-suka-kucing-aja-yang-memahami/


Refbacks

  • There are currently no refbacks.